Punten, ini blog siapa yah??

well, kembali nulis lagi di wordpress yang setelah hampir 2 tahun tidak dijamah itu serasa abis tidur terus pas bangun udah punya anak..hahaha bingung kan????

Entahlah,setelah titel mahasiswa hilang dan status karyawan disematkan, hasrat menulis berangsur-angsur meredup *cie ileh bahasa gue* Ya gak ilang banget sih, tapi ada aja alesan buat gak nyentuh blog..dan alasan klasik adalah CA-PEK. Selain itu juga kan karena ini blog banyak ngomongin jalan-jalan and i proclaimed myself as travel writter (dulu) jadi ya musti nunggu dulu ngtrip kemana gitu baru deh punya niat nulis walaupun akhirnya inspirasi itu hanya sampe di otak dan menguap begitu saja *jedukin kepala*

Sebagai permulaan, saya gak akan nulis tentang trip dulu kali yah, itung-itung penjajakan lagi sama si wordpress yang mana tampilannya udah banyak berubyah..

So, buat kamu-kamu yang kangen cerita perjalanan saya…dont go anywhere, i’ll be right back *yakali gw teh banyak penggemar :)))) *

Karena Kami adalah Pengejar Sunset

Beberapa hari di Pulau Lombok tak lengkap rasanya jika tidak menghabiskan waktu untuk menunggu matahari tenggelam. Adalah tidak berlebihan jika banyak orang yang bilang bahwa sunset Pulau Lombok ini merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia. Kamipun tidak ingin ketinggalan untuk memburu sunset di beberapa spot yang ada di kawasan Senggigi.

Hari pertama kami mencoba memburu sunset di Pantai Krandangan, 10 Km ke arah Utara dari pantai Senggigi. Pantai ini relatif sepi sehingga kami leluasa untuk bermain-main di pantai ini. Sayang sore itu cuaca di sekitar pantai ini berawan dan sedikit mendung sehingga lembayung senja yang berpendar terhalang oleh awan yang cukup tebal.

Sunset at Krandangan

Sunset at Krandangan

Berawan

Berawan

Sunset yang Kurang Greget

Sunset yang Kurang Greget

Perburuan sunset hari kedua kami lakukan di Pelabuhan Ampenan, tidak jauh dari kota Mataram. Pelabuhan Ampenan ini setiap sorenya selalu dipenuhi warga kota yang ingin menikmati pergantian siang di sini. Warga kota menikmati tenggelamnya matahari disini dengan berbagai aktivitas seperti berenang, main bola, menyantap kuliner khas ataupun hanya sekedar bercengkrama dengan kerabat. Namun yang membuat kami takjub sunset disini benar-benar indah, walaupun tempat ini cukup ramai tapi tidak membuat keindahan sunset disini luntur.

Sunset Ampenan

Sunset Ampenan

Ditelan Gunung Agung Bali

Ditelan Gunung Agung Bali

Sampai Jumpa Esok Hari

Sampai Jumpa Esok Hari

Di hari terakhir kami di Lombok, perburuan sunset kami lakukan di Bukit Nipah atau lebih populer dengan sebutan Bukit Malimbu 2. Bukit ini terletak di jalan raya Senggigi, Kabupaten Lombok Barat. Jika sering nonton FTV SCTV dengan setting Lombok pasti tidak asing dengan kawasan ini. View pantainya yang indah membuat siapapun akan betah berlama-lama di tempat ini termasuk saya :D. Cuaca yang cerah membuat sunset di tempat ini menjadi penutup petualangan lombok kami yang sangat mengesankan.

Cuaca Cerah di Bukit Nipah

Cuaca Cerah di Bukit Nipah

Sunset Bukit Nipah

Sunset Bukit Nipah

Beautiful Sky

Beautiful Sky

Bautiful Sunset

Bautiful Sunset

See You Next Time

See You Next Time

Siluet Gunung Agung Ba

Siluet Gunung Agung Bali

Tidak salah memang jika banyak orang yang terkagum-kagum akan keindahan sunset di Lombok. Dan saya salah satu manusia yang terhipnotis akankeindahan sunset di Lombok ini.. Subhanllah

Pantai Selatan Lombok yang Menakjubkan

Pulau Lombok memang menyimpan keindahan yang tiada duanya. Tidak hanya pantai di gugusan tiga Gili namun ternyata pantai selatan pulau ini menawarkan keindahan yang luar biasa. Pantai-pantai di selatan lombok ini memang belum begitu familiar di telinga apalagi jika dibandingkan dnegan pantai-pantai di Pulau Bali.

Perjalanan menuju pantai selatan dimulai dari kota Mataram, dengan mobil kijang yang kami sewa, kami meluncur menuju Kabupaten Lombok Tengah. Tujuan pertama kami adalah pantai Kuta. Untuk menuju Pantai Kuta diperlukan waktu kurang lebih satu jam dari Kota Mataram. Kondisi jalan di Lombok ini benar-benar dapat membuat saya tertidur dengan mudah :) . Untuk sampai di pantai ini juga tidaklah sulit karena petunjuk jalan cukup memberikan informasi dengan jelas. Namun untuk sarana transportasi menuju daerah ini memang masih kurang, ada baiknya menyewa mobil/motor di mataram sehingga dapat menghemat waktu. Setelah hampir satu jam berkendaraan kami akhirnya tiba di pantai Kuta, Lombok Tengah Yeaaaaaaaaaaayyyy !!!!

Pantai Kuta yang Cerah

Pantai Kuta yang Cerah

Beautiful Kuta

Beautiful Kuta

Kuta's Landscape

Kuta's Landscape

Sayangnya kenyamanan menikmati keindahan pantai ini harus sedikit terganggu dengan keberadaan pedagang asongan yang cukup “ngeyel” alias maksa. Sebenarnya sah sah saja berjualan dimana saja namun perlu cara-cara yang santun agar wisatawan tertarik untuk membeli, dan yang paling penting adalah membuat para pengunjung merasa nyaman datang ke tempat ini.

Setelah puas menikmati keindahan Pantai Kuta, kami meluncur ke arah timur pantai ini menuju Pantai Tanjung Aan. Kondisi jalan menuju pantai ini cukup baik namun relatif lebih kecil. Tidak sampai setengah jam kami sudah tiba di Pantai Tanjung Aan. Here they are…Tanjung Aan views :D

Tanjung Aan

Tanjung Aan

Great Beach

Great Beach

Beautiful Sky

Beautiful Sky

Saya Suka Gradasi Warnanya :)

Saya Suka Gradasi Warnanya :)

Setelah puas bermain main di Tanjung Aan, kami kembali menuju barat melewati pantai Sager dan Kuta. Awalnya kami ingin langsung menuju Senggigi untuk mengejar Sunset dan Perang Rotan di Pasar Seni Senggigi namun karena waktu masih siang akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Mawun masih di selatan Pulau Lombok. Pantai Mawun berada sekitar 30 Km  sebelah barat dari Pantai Kuta. Sebenarnya pantai ini bisa dicapai hanya dengan waktu kurang dari satu jam, namun karena kondisi jalan yang kurang baik jadilah diperlukan waktu sekitar 45-60 menit ke pantai ini. Medan menuju pantai Mawun ini berbukit-bukit namun dari atas bukit kita juga dapat menikmati hamparan pantai selatan lombok yang menakjubkan. Untuk menuju pantai ini sebenarnya terdapat angkutan umum, namun karena okupansinya snagat kurang jadi perjalanan menuju/dari pantai ini sangatlah minim.

Andri on Action

Andri on Action

Satu jam perjalanan, kami tiba di Pantai Mawun. landscape pantai ini sekilas mirip pantai-pantai yang ada di Flores pantai dengan background bukit. Satu kata untuk menggambarkan pantai ini..Beautiful !!!

Beautiful Mawun

Beautiful Mawun

Love It

Love It

Great Sky

Great Sky

Memandangi Birunya Laut

Memandangi Birunya Laut

Keindahan pantai ini membuat kami betah berlama-lama disini sampai-sampai kami pun terlambat menuju Senggigi :D . Walaupun terlambat menuju Senggigi namun kami tidak terlalu menyesal karena pemandangan yang diberikan pantai selatan lombok tidak mengecewakan.

Mengunjungi Dusun Tradisional Sade

Ada banyak desa-desa tradisional di Lombok, salah satunya adalah Dusun Sade di Desa Rambitan, Lombok Tengah. Tidak sulit menemukan dusun ini karena letaknya yang mudah dijangkau. Terletak di pinggir jalan raya antara Mataram dan Praya, dusun ini juga biasa dijadikan tempat bersinggah bagi wisatawan sebelum atau mungkin sesudah berkunjung ke pantai selatan lombok.

Berangkat dengan menggunakan mobil carteran, saya, Andri, Amri dan Dajon meluncur ke arah selatan lombok. Sebenarnya hanya butuh waktu setengah jam saja untuk mencapai dusun ini namun kami singgah sebentar di Bandara Internasional Lombok (BIL) yang sedang dalam tahap akhir proses pembangunan. Bandara ini lebih luas daripada Bandara Selaparang dengan desain yang minimalis dan futuristik (seperti Bandara Hassanudin di Maksasar). Rencananya jika pembangunan bandara internasional ini tidak mengalami kendala sekitar bulan oktober bandara ini siap beroperasi dan beberapa maskapai internasional siap merapat disini guna menumbuhkan pariwisata Pulau Lombok. Dari BIL kami meluncur ke selatan dan tidak sampai 20 menit akhirnya kami tiba di dusun Sade ini. tidak ada tarif resmi untuk memasuki kawasan dusun ini, namun di depan pintu masuk tamu diwajibkan mengisi daftar kunjungan dan juga “infak” seadanya yang nantinya digunakan untuk masyarakat Sade sendiri.

BIL Under Construction

BIL Under Construction

Welcome to Sade

Welcome to Sade

Dusun ini dihuni oleh Suku Sasak, suku asli Pulau Lombok. Mata pencaharian mereka adalah bertani dan wanita di dusun ini rata-rata pandai menenun. Dengan menggunakan alat tenun tradisional, mereka membuat kerajinan tenun yang nantinya di jual kepada para wisatawan yang datang ke desa ini.

Memintal Benang untuk Menenun

Memintal Benang untuk Menenun

Rumah-rumah yang ada disini juga sangat sederhana terbuat dari kayu, bambu dan beratapkan daun alang-alang kering. Yang unik dari rumah tradisional ini adalah lantainya yang secara berkala diolesi dengan kotoran lembu tujuannya  agar terbebas dari serangan nyamuk yang mengganggu dan selain itu dipercayai juga agar terbentengi dari gangguan-gangguan yang bersifat magis.  Ada pertanyaan dari teman saya mengenai bau kotoran lembu ini dan kemudian dijawab oleh guide kami bahwa pada saat masih basah memang menimbulkan bau yang cukup menyengat namun bau itu perlahan lahan lenyap seiring mengeringnya kotoran lembu itu.

Rumah Tinggal Masyarakat Sade

Rumah Tinggal Masyarakat Sade

Lumbung Padi (Bumi Gora) Khas Suku Sasak

Lumbung Padi (Bumi Gora) Khas Suku Sasak

 

Tangga Menuju Ruangan Dalam

Tangga Menuju Ruangan Dalam

Rumah tradisional ini hanya memiliki 2 ruangan saja yaitu bagian depan dan bagian dalam. bagian depan ini diperuntukkan bagi laki-laki dan ibu. sedangkan bagian dalam diperuntukkan bagi wanita yang masih lajang. Ruangan dalam ini memiliki letak yang lebih tinggi dibandingkan dengan ruangan depan.

Kain Tenun Karya Wanita Sade

Kain Tenun Karya Wanita Sade

Buah tangan Khas Masyarakat Sasak

Buah tangan Khas Masyarakat Sasak

Sebelum meninggalkan dusun ini, ada baiknya membeli buah tangan hasil kerajinan masyarakat Dusun Sade seperti kain tenun, ukiran kayu ataupun sekedar gantungan kunci. Selain membawakan buah tangan untuk kerabat membeli cenderamata penduduk lokal juga menjadi salah satu cara kita untuk ikut meningkatkan taraf hidup masyarakat desa.

Eksotisme Tiga Gili

Setelah hampir seminggu berada di Taman Nasional Gunung Rinjani, kemudian saatnya saya mengeksplore alam Pulau Lombok yang lainnya. Bertolak dari Desa Senaru di kaki Gunung Rinjani, kami berangkat menuju Pelabuhan Bangsal. Dua jam perjalanan dengan menggunakan engkel, akhirnya  kami tiba di Pelabuhan bangsal dan langsung membeli tiket kapal menuju Gili Trawangan seharga 10rb rupiah. Perjalanan membelah ombak menuju Gili Trawangan memakan waktu kurang lebih 40 menit.

Gili Trawangan

Gili Trawangan

Selesai solat jumat, kami lantas bergegas mencari spot untuk beristirahat, dan saya pun memanfaatkan waktu istirahat untuk snorkeling dan bermain air sepuasnya disini. Waktupun berjalan, setelah waktu beranjak sore kami memutuskan mencari tempat untuk mendirikan tenda. Setelah tanya sana-sini akhirnya  kami bisa mendirikan tenda di sebelah ujung barat pulau tepatnya dekat PLN Gili Trawangan.

Awalnya kami ingin mendirikan tenda, namun udara malam itu terasa cukup hangat sehingga akhirnya kami hanya beralaskan spanduk dan diterangi cahaya bulan serta kerlipan jutaan bintang di langit untuk menghabiskan malam yang cukup panjang.

Beberapa jam setelah mata terpejam, saya terbelalak menyaksikan sunrise yang sangat indah di pulau ini, dari ujung pulau terlihat matahari mulai muncul dari punggung gunung Rinjani, momen itupun tidak saya sia-siakan untuk diabadikan.

Fajar Mulai Menyingsing

Fajar Mulai Menyingsing

Fajar Memerah *Love It

Fajar Memerah *Love It

Mentari Menampakan Diri

Mentari Menampakan Diri

It's So Damn Beautiful Sunrise

It's So Damn Beautiful Sunrise

Pagi pun mulai beranjak, setelah sarapan pagi, kami lalu bergegas menuju pelabuhan. Hari ini tim kepiting rinjani berpisah, Saya, Andri, Amri dan Dajon akan melanjutkan perjalanan menuju Gili Meno dan Gili Air. Setelah berpisah kami lalu menaiki kapal menuju Gili Meno. Saya heran dengan tarif kapal disini, dari bangsal menuju Gili trawangan, meno dan air tarifnya sebsar 10rb, tapi dari gili trawangan menuju gili meno tarifnya sebesar 20 rb padahal jarak tempuhnya lebih pendek. (-____-)”

20 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di Gili Meno..yeaaayyy Get Lost in Lombok begin !!! kami menyusuri setiap jengkal pulau yang terletak diantara Gili Trawangan dan Gili Air. Gili meno ini lebih lengang daripada Gili Trawangan, cottage-cottage pun tidak terlalu bertebaran seperti di Gili Trawangan. Pulau ini tampaknya cocok buat mereka yang ingin berbulan madu dan menikmati kesunyian :).

Welcome to Gili Meno

Welcome to Gili Meno

Damn..Beautiful !!

Damn..Beautiful !!

Danau Air Payau di Gili Meno

Danau Air Payau di Gili Meno

I Love the Sky

I Love the Sky

Pelabuhan Gili Meno

Pelabuhan Gili Meno

Setelah berkeliling-keliling akhirnya kami menemukan sebuah cafe yang ternyata harganya cukup terjangkau, jadilah kami memutuskan makan siang disana.  Cafe Diana ini tempatnya sangat oke, selain viewnya langsung menghadap laut disini juga bisa bersantai di hammock sambil mendengarkan lagu khas pantai. Berlama-lama disini tak terasa waktu sudah mendekati sore, kami lalu bergegas dan langsung menuju pelabuhan. Sebenarnya setelah dari Gili Meno, kami berniat untuk menuju Gili Air. Namun sayang karena slot waktu kami molor dan sore itu juga kami ingin mengejar sunset di Senggigi akhirnya kami putuskan untuk melewatkan Gili Air (Saya harus datang kesini suatu hari nanti) dan langsung kembali menuju pelabuhan Bangsal. Perjalanan menjelajahi Trio Gili ini memang tersa kurang lengkap namun, saya berjanji bahwa saya akan kembali lagi kesini ..Yup, Someday i will be here again :)

Perjalanan Menaklukan Dewi Anjani (3726 mdpl)

Perjalanan menuju Puncak Rinjani ini memang sudah saya rencanakan sejak jauh hari. Lokasi yang lumayan jauh dan waktu perjalanan yang cukup lama membuat saya dan tim pendakian benar-benar mempersiapkannya secara matang.
Tim pendakian yang kemudian diberi nama Kepiting Rinjani dibagi menjadi 4 kelompok terbang, kloter 1 (Ayu, Ambar dan Andre) berangkat dengan cara “ngeteng” menuju Bali pada hari Senin 090511, sedangkan kloter 2 (Amri, mas Joedy dan Andri) berangkat keesokan harinya dengan menggunakan pesawat terbang menuju Bali, kloter 3 (saya dan ika) juga menggunakan peswat menuju Bali namun pada hari kamis, dan kloter 4 Mas Peggy menggunakan penerbangan langsung menuju Mataran pada hari Jumat.

Perjalanan dimulai dari Bali dengan menumpangi bus Safari Dharma menuju Mataram dengan harapan terbebas dari hadangan calo-calo di Padangbai dan pelabuhan Lembar. Sesampainnya di Mataram kami mempersiapkan perlengkapan pendakian dan istirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga sebelum menuju Desa Sembalun. Bebas calo di Pelabuhan Lembar belum tentu bebas di terminal Mandalika, Yap..akhirnya kami berhadapan juga dengan calo-calo di Mandalika pada saat hendak menaiki Engkel (Elf) dan setelah bernegosiasi dengan beberapa calo akhirnya disepakati harga Engkel untuk mengantar kami sampai Desa Sembalun.

Empat jam perjalanan, kami akhirnya sampai di Pos Pendaftaran Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Desa Sembalun. Setelah mendaftarkan diri di pos, kami beristirahat sejenak dan langsung menuju desa Bawah Nau sebagai titik awal pendakian. sebenarnya desa ini bukan merupakan jalur resmi pendakian, namun porter kami meyarankan untuk memulai pendakian dari desa ini karena selaian memang porter kami orang desa Bawah Nau, berangkat dari desa ini dapat memangkas waktu perjalanan sekitar 2 jam.

keesokan harinya setelah solat subuh, kami memulai perjalanan menuju Plawangan sembalun. Untuk menuju Plawangan Sembalun diperlukan waktu normal sekitar 8-9 jam dan melewati sebanyak 3 pos/ shelter peristirahatan. di sepanjang jalan sampai dengan pos 3 kita akan dimanjakan dengan hamparan luas savana/padang rumput yang sesekali dipayungi oleh pohon cemara. Padang rumput ini mengingatkan saya pada Bukit Teletubies yang ada di Gunung Semeru. Namun, jika terlambat memulai pendakian maka padang rumput yang indah ini akan menguras banyak tenaga kita selain itu karena jalurnya yang cukup panjang tak sedikit yang mneyebut savana ini dengan sebutan bukit penyiksaan atau bukit penderitaan walaupun jalurnya relatif datar. Selepas pos 3 jalur menuju Plawangan Sembalun didominasi oleh tanjakan dan sedikit sekali jalur landai (bonus) hanya sesekali dan itupun dengan jarak yang cukup pendek. dari pos 3 menuju Plawangan Sembalun bukit didominasi oleh pohon cemara dan perdu dan mendekati Plawangan Sembalun mulailah bermunculan pohon-pohon edelweis dengan bunga yang sedang bermekaran BAGUUUUSS BANGEEETT !!!

bukit penderitaan

Bukit Penderitaan

Perjalanan menuju Plawangan Sembalun ternyata cukup menguras tenaga kami, sehingga summit attack yang kami rencanakan pada dini hari tertunda menjadi dini hari keesokan harinya. Dalam masa recovery tenaga kami hanya melakukan kegiatan-kegiatan ringan, tidur, ataupun sekedar menikmati pemandangan danau segara anakan yang luar biasa dari Plawangan Sembalun.

Malam itu, pukul 23.00 kami bangun dan mempersiapkan diri untuk melakukan summit attack, kami sengaja berangkat lebih awal dengan estimasi waktu normal menuju puncak sekitar 5 jam ditambah waktu istirahat setengah jam. setelah mengisi perut dengan makanan penambah tenaga, pukul 00.30 kami mulai pendakian menuju puncak. Jalur antara Plawangan Sembalun sampai dengan puncak didominasi oleh pasir, Jalur pasir ini mengingatkan saya kembali akan Jalur Pasir Arcopodo-Puncak di Gunung Semeru. Namun pasir di Rinjani ini strukturnya relatif lebih kasar sehingga lebih mudah untuk dipijak. Namun saat melewati jalur pasir ini, hendaknya berhati-hati dan selalu berkonsetrasi karena angin yang berhembus di jalur ini cukup kencang ditambah lebar jalur yang sempit dengan jurang menganga di sebelah kiri dan kanan yang cukup membahayakan nyawa. 5 jam menuju puncak bukan hanya bertarung dengan tenaga, namun juga berjuang melawan mental yang semakin menurun. Pukul setengah 6 Alhamdulillah kami berhasil mencapai puncak Rinjani, perasaan gembira dan bangga tentunya mengelayuti hati kami. Semua lelah selama 5 jam perjalanan menuju puncak tiba-tiba lenyap dengan sendirinya. Tak lupa bersyukur kepada Sang Khalik yang telah memberikan kenikmatan yang luar biasa.

Perfect Sunrise at The Top

Perfect Sunrise at The Top

Kepiting Rinjani

Kepiting Rinjani

Selesai menikmati keindahan Rinjani, kami kemudian bergegas meninggalkan puncak (suatu hari saya pasti kembali lagi) menuju camp kami di Plawangan Sembalun. Siang itu jadwal kami menuju Danau Segara Anakan mengalami keterlambatan, akhirnya saya dan Amri bergegas menuju Segara Anakan untuk mempersiapkan tenda dan makanan untuk tim yang tiba belakangan. Pukul 20.00 tim tiba dengan selamat walaupun ada sedikit insiden kecil.

Danau Segara Anakan ini merupakan danau yang cukup terkenal di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Danau ini memiliki luas sekitar 1100 ha dan di  ujung Danau ini terdapat Gunung Barujari yang merupakan Anak dari Gunung Rinjani. Gunung Barujari ini merupakan gunung yang aktif . Danau Segara Anak ini juga pada waktu-waktu terntentu sering dipadati umat hindu yang melakukan upacara disini. Walupun sumber air melimpah di danau ini, namun air disini tidak dapat diminum. Untuk memenuhi kebutuhan air minum, terdapat sumber mata air yang berjarak kurang lebih 500 km dari danau. Di areal danau juga terdapat sumber air panas yang dapat digunakan untuk mandi atau sekedar berendam menghilangkan rasa capek. Gunung Rinjani menurut saya menurapakn gunung yang komplit dengan view yang luar biasa. Selain Savana, Danau, Sumber Air Panas, dan Air Terjun disini juga terdapat gua yang bernama Goa Susu. Goa ini dinamai goa susu karena di bagian dalam goa ini berwarna putih seperti susu. Stalagnit-stalagnit di goa ini meneteskan air panas di dalam goa sehingga uap air panas keluar di mulut goa. Disini kita juga bisa merasakan sauna alami khas Gunung Rinjani. Setelah 3 malam kami menghabiskan waktu di Segara anakan ini, keesokan harinya kami bergegas melakukakn perjalanan turun via Plawangan Senaru.

Segara Anak's View

Segara Anak's View

Gunung Barujari

Gunung Barujari

Goa Susu

Goa Susu

Air Terjun dekat Sumber Air Panas

Air Terjun dekat Sumber Air Panas

Rinjani's View from Plawangan Senaru

Rinjani's View from Plawangan Senaru

Setelah sarapan pagi, jam setengah 8 kami memulai perjalanan. Medan menuju Plawangan Senaru merupakan hutan terbuka dan didominasi oleh jalur yang berbatu. Di titik ini juga para pendaki harus sangat berhati-hati karena jalur yang cukup terjal dan minim pengaman dapat membahayakan nyawa. 4 jam perjalanan akhirnya kami tiba di Plawangan Senaru dan beristirahat untuk mengisi tenaga. Setelah mendapatkan energi kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3, dianatara Plawangan senaru sampai dengan Pos 3 jalur yang dilewati cukup landai dan didominasi oleh padang edelweis dan tumbuhan cemara. dua jam perjalanan kami akhirnya tiba di Pos 3, Pos 3 ini merupakan shelter peristirahatan yang terdiri dari tiga buah Gazebo untuk beristirahatnya pendaki. Selepas dari pos 3 kita memasuki hutan tertutup dengan jalur yang terus menurun. Dari Pos 3 diperlukan waktu sekitar 2 jam menuju pos 2. setelah beberapa saat beristirahat, kami lanjutkan perjalanan menuju pos 1 di pertengahan jalan tepatnya saat magrib tiba, kami hentikan terlebih dahulu perjalanan dan kami gunakan waktunya untuk beristirahat. Waktu yang diperlukan untuk menuju pos 1 dari pos 2 adalah sekitar 2 jam, dipertengahan antara pos 1 dan pos 2 terdapat satu pos bayangan yang terdiri dari sebuah Gazebo yang biasanya digunakan untuk bermalam, saat itu kami berniat untuk langsung turun tanpa bermalam di jalan. Setibanya di Pos 1 kami hanya istirahat sebentar dan langsung melanjutkan perjalanan, dari pos 1 ini kami menuju pos Jbag Gawah (pintu hutan) selama 1,5 jam. Alhamdulillah sekitar pukul 9 kami tiba di Pos Jbag Gawah dan beristirahat di warung satu-satunya di pos itu. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan sekitar 30 menit menuju Pos Pendaftaran Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Desa Senaru dan bermalam disana.

Thank’s to Allah Yang Maha Kuasa, Partner In Crime Amri, Ambar, Ika, Ayu, Mas Joedy, Andri, Andre dan Mas Peggy, juga porter in crime Mas Anto, Mas Angga di mataram dan Gilang. Terimakasih atas cerita dan cinta :)

foto-foto selangkapnya disini

Jagatkartta Temple’s Trip

A month ago, i joined Odong-Odong Traveler’s trip to Jagatkartta Trip. Jagatkartta Temple is located in Ciapus Bogor. Me, Amri, Puteri and Puteri’s friend gathered at Tanjung Barat Trains  Station as meeting point toward Bogor. The journey was about an hour to Bogor. Our meeting point was at Bogor Stations. We went to Ciapus by using rent car but unfortunatelly the car striked in the middle of our journey, so we had to change another car. Alhamdulillah it was quite easy to find another rent car there. We finally arrived at Ciapus. Because of the damaged roads, we had to walk about 1 Km to reach the Temple. After walking for about a half hour, we finally got to the Temple.

Bogor Train Station, our meeting point

Yes, we arrived at Jagatkartta Gate :)

I found it on the way

There are some rules for visitor before entering the Temple such as do not enter for the menstruation women, for cuntaka (mourn), a baby who is under 42 days after born, somebody who is mentally sick. In this Temple we also can not be allowed to make a noise.

Located on the downhill, Jagatkartta Temple has a good atmosphere especially for they who is going to meditation. The air is cool and the view is so beautiful. For information, this temple is the 2nd largest temple after Besakih Temple in Bali.

here they are…………………….

Ssstt..dont make a noise, they were praying

Bogor view

Offerings to the God’s

After visiting the temple, we went to find a local culinary at Jalan Suryakencana, Bogor. Unfortunatelly my camera batteries was insufficient so i couldnt take some of picture :(