Arsip Bulanan: April 2010

Parahyangan Terakhir

Bisnis 1 KA 69

Bisnis 1 KA 69

sebelum KA Parhyangan dihentikan operasinya tanggal 27 April 2010 besok, saya sebagai railfans tidak mau menyia-nyiakan kesempatan terakhir saya bersama kereta yang sudah hampir 40 tahun beroperasi ini. Berangkat dari stasiun Bandung pukul 13.00 saya menaiki KA 69 yang ditarik Loko CC201 100 membawa 7 rangkaian dengan formasi 4K2+KMP+2K1 . Tepat pukul 13.00 kereta berjalan meninggalkan satsiun bandung menuju Jakarta (Gambir)

berbicara sedikit mengenai KA Parahyangan, kereta ini disekitar tahun 90an sampai dengan awal 2000an sempat menjadi Primadona trayek bandung-Jakarta dan sebaliknya saat itu sebelum ada Jalan Tol Cipularang waktu tempuh kereta api merupakan yang tercepat dibandingkan dengan menggunakan bus yang harus memakan waktu sekitar 5 jam karena harus melewati daerah Puncak ataupun purwakarta.

perjalanan menggunakan kereta api ini saya pikir perjalanan yang sangat menarik, karena di petak antara Purwakarta sampai dengan Padalarang penumpang akan dinamanjakan dengan pemandangan alam tatar Priangan yang begitu cantik dan mempesona sehingga walaupun perjalanan memakan waktu kerang lebih 3 jam penumpang tidak akan bosan karena akan terus disuguhi pemandangan yang bagus.

kemudian semenjak tahun 2005 ketika jalur Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang) dibuka perlahan tapi pasti penumpang banyak yang memilih jalan tol tersebut karena waktu tempuh yang dapat direduksi menjadi 2,5 jam saja untuk petak Jakarta-Bandung. Relative singkatnya waktu tempuh jakarta-bandung membuat usaha travel semakin potensial sehingga tidak berselang lama kemudian usaha travel menjamur dan menggarap penumpang kereta api. dari situlah kemudian penumpang kereta beralih ke angkutan travel dan membuat penurunan okupansi kereta api.

balik lagi ke perjalanan terakhir saya bersama KA Parahyangan, kereta ini bejalan cukup cepat sampai dengan padalarang, kemudian  berhenti untuk silang dengan KA 68 dari Padalarang kereta melaju tanpa berhenti untuk persilangan (Argo Gede aja sampei berhenti untuk mempersilahkan KA 69 melaju). Namun di Petak Ciganea-Purwakarta kereta melaju dengan sangat lambat ini dikarenakan ada perbaikan rel yang diakibatkan labilnya struktur tanah di daerah tersebut (sempat beberapa kali longsor) sampai dengan stasiun Purwakarta kereta berhenti untuk menurunkan penumpang dan bersilang dengan KA 70. setelah bersilang kereta melaju kembali dengan cepat tidak lebih dari satu jam kereta telah sampai di stasiun Bekasi, kemudian berhenti untuk menurunkan penumpang. setelah itu kereta kembali melaju menuju satsiun Jatinegara dan berakhir di stasiun Gambir. KA 69 15 menit lebih lambat sampai di stasiun Gambir

perjalanan terakhir bersama KA Parahyangan yang tidak pernah membosankan, semoga dengan penghapusan KA Parahyangan muncul KA lain yang okupansinya lebih bagus. Terima kasih telah setia mengantarkan saya Bandung-Jakarta dan sebaliknya :)

Goodbye…and Rest In Peace :)

menjelajahi Bandoeng Tempoe Doeloe

berniat mengelilingi kawasan Bandung Lama dari beberapa minggu lalu akhirnya bisa terwujud minggu ini (24 April 2010), awalnya sih temen2 saya mau pada ikut, cukup banyak  temen yang mau ikut trip ala saya tapi itu teori doank, prakteknya too much excuse..yang ujung-ujungnya saya pergi sendiri hehhehe. Ga jadi masalah berangkat sendiri, justru semakin asyik karena saya punya banyak waktu dan itenarary yang lebih leluasa. Perjalanan diawali dari simpang dago, saya menggunakan angkot Kalapa-Dago untuk menuju  Hotel Preanger. Perjalanan sekitar 20 menit lalu sayapun turun di perempatan Asia-Afrika – Lembong dan kemudian saya menuju titik 0 Km sebagai titik awal pemberangkatan saya :D

1. Titik 0 Km

0 Km bandung
0 Km bandung *diambil dari skyscrapercity.com*

tak banyak yang menyangka bahwa tugu 0 Km di Jalan Asia-Afrika ini mempunyai nilai historikal yang tinggi. Titik ini menjadi titik awal terbentuknya kota Bandung sekaligus titik awal perhitungan jarak dari kota Bandung ke kota-kota lain. dahulu saat Gubernur Jendral Hindia Belanda Daendels membangun jalan Pos (Postweg) Anyer-Panarukan   dia melewati bandung (yang juga dilalui Postweg ini) dia sangat terpikat oleh keindahan dan kesejukan kota Bandung, kemudian dia meminta bupati Bandung R. Wiranatakusumah II seraya berkata “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” yang artinya Coba usahakan, ketika saya kembali kesini daerah ini sudah menjadi kota. Kemudian Daendels menancapkan tongkat di tempat ini dan akhirnya masyarakat membuat sebuah monumen tepat di titik 0 Km tersebut.

2. Kantor Pikiran Rakyat

beberapa meter dari titik 0 Km terdapat sebuah kantor harian Pikiran Rakyat, hm…nothing special tapi lumayan mumpung masih pagi saya bisa baca update-an kabar hari ini via koran yang ditempel di papan baca depan kantor

3. Museum Konferensi Asia Afrika

gedung merdeka
gedung merdeka *diambil dari skyscrapercity.com*

setelah membaca update-an berita hari ini kaki saya langsung melangkah ke sebuah gedung yang sangat terkenal di Bandung, yup..Gedung Asia Afrika. mumpung weekend ini buka karena ada acara peringatan 55tahun KAA (biasanya museum KAA ini hanya buka senin-jumat) sayapun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. dimulai dari Lobby gedung saya disuguhi replika para pimpinan sidang KAA seprti Jawaharlal Nehru dari India, U Nu dari Burma, Sir Jhon Kotelawala dari Sri Lanka, Ali Sastroamidjojo dari Indonesia dan Mohammad Ali dari Mesir. berjalan ke sebelah timur lobby terdapat tulisan mengenai sejarah KAA dan peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi terselenggaranya KAA. Sedangkan di sebelah barat terdapat sebuah venue atau balai yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya konferensi, lengkap dengan mimbar, panggung, dan juga tempat untuk para wartawan meliput kegiatan.

Berbicara sedikit mengenai KAA, konferensi ini merupakan suatu acara yang luar biasa yang diselenggarakan Indonesia. Indonesia sebagai salah satu pemrakarsa dapat menjadi yang terdepan dalam memecahkan masalah dunia. Saya berpikir sejenak dahulu betapa Indonesia sangat disegani di mata dunia. Indonesia dengan ide-ide nya dapat ikut menjadi bagian dari solusi masalah dunia, perasaan bangga menjadi bangsa yang besar. Akan tetapi sangat miris melihat kenyataan bangsa Indonesia sekarang, kondisinya sangat jauh dari masa lalu, penjajahan atas bangsa sendiri dilakukan secara nyata oleh penguasa. Bukan menjadi solusi dalam masalah dunia tapi permasalahan di negeri sendiri semakin hari semakin kompleks. Tapi bagaimanapun bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar, generasi sekaranglah yang harus menjadikan bangsa ini besar kembali :)

kembali ke Gedung Merdeka, gedung bergaya Art Deco yang mempunyai nama Socitet Concordia ini dahulunya adalah sebuah tempat hiburan Elite bagi Noni-Noni dan Mener-Mener Belanda. Di gedung ini biasanya menampilkan berbagai kesenian, gedung ini merupakan sarana rekreasi bagi Mener-Mener Perkebunan, pengusaha ataupunn kalangan atas. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Gedung ini bahkan tidak semua orang Belanda dapat masuk ke gedung ini jadi tempat ini memang sangat ekslusif.

5. Kompleks penjara Banceuy

kamar no 5 blok F
kamar no 5 blok F *diambil dari detik.com*

berjalan beberapa meter dari kompleks gedung merdeka saya kemudian menyusuri jalan Cikapundung dan masuk ke kompleks pertokoan spare part mobil di jalan Banceuy. Wait…, tujuan saya ke tempat ini bukanlah untuk membeli spare part mobil (tentu tidaaak!!) tapi untuk melihat suatu situs sejarah perjuangan bangsa. Dahulu kompleks pertokoan ini merupakan sebuah kompleks penjara yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1877 (dari impo yg saya dapet). Kompleks penjara ini mempunyai nilai historis yang cukup besar bagi bangsa ini, karena pada tahun 1929 Soekarno pernah ditahan di penjara ini tepatnya di ruang nomor 5 blok F akibat perjuangan beliau untuk mencapai kemerdekaan, sampai sekarang ruang tahanan bung karno masih diabadikan sebagai situs sejarah. Sekarang kompleks penjara ini telah dibongkar dan dialihfungsikan menjadi pertokoan. masih nampak di depan kompleks pertokoan ini sebuah pos keamanan untuk memantau tahanan, namun kondisinya sudah memprihatinkan. Kesan pertama saya ketika datang ke tempat ini adalah MIRIS *seriously* bagaimana bisa suatu tempat yang memiliki nilai historis (apalagi pelakunya seorang tokoh yang besar di negeri ini) dibiarkan seadanya. Ruang tahanan bung karno tersebut hanya diberi sebuah prasasti dan diberi pagar yang penuh oleh jemuran Tunawisma.  Saya jadi ingat quote ini “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan para pahlawannya” hmm..jadi berfikir lagi pantas saja bangsa ini sampai saat ini masih kerdil karena bangsa ini kurang menghargai para pahlawannya. Semoga generasi saat ini bisa memperbaiki keadaan menjadi lebih baik sehingga bangsa ini bisa benar-benar menjadi bangsa yang besar :)

6. Pabrik Kopi Aroma

kopi aroma
kopi aroma khas Pabrik Kopi Aroma bandung *diambil dari catatanpendek.blogspot.com*

setelah mengunjungi penjara Bung karno di kawasan Banceuy, saya meneruskan kembali perjalanan menuju jalan Banceuy no 51. Ada apa disana? Hmm…Banceuy 51 adalah sebuah tempat penjualan kopi. Wait, ini bukan sembarang toko kopi karena kopi yang dijual disini berbeda dengan kopi di tempat lain. Pabrik Kopi Aroma, itulah nama tempatnya, sekilas nampak tidak ada yang spesial di tempat ini. hanya gundukan biji kopi yang terpampang di etalase toko. Namun didalam rumah ini ternyata ada pabrik kecil tempat mengolah biji-biji kopi tersebut menjadi kopi yang bercita rasa tinggi. Jangan segan untuk meminta bapak Widya Pratama (pemilik pabrik kopi) menunjukan proses pembuatan kopi ini karena beliau akan sangat senang mengenalkan proses pembuatan kopi yang masih dilakukan secara tradisional, dapat dilihat dari peralatan-peralatannya yang sederhana. Satu yang membedakan cita rasa kopi ini dengan kopi yang lainnya (apalagi kopi instant) adalah proses pembuatannya dimana biji-biji kopi ini ditumpuk dalam karung goni dan disimpan selama 5-8 tahun tergantung jenis kopinya. Prosesnya penyimpanan kopi ini cukup lama namun disinilah letak khasiatnya, kopi yang disimpan dalam waktu yang cukup lama mebuat kadar keasamannya turun dan konsentrasi kafein dalam kopi tersebut menurun sehingga dapat mekasimalkan khasiat dari kopi itu sendiri dan memang kopi ini terbukti aman bahkan untuk penderita maag sekalipun.

dalam menjalankan usahanya Pak Widya Pratama sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran, ini yang patut dicontoh bagi semua enterpreneur. Dalam menjalankan bisnis kopinya beliau senantiasa menerapkan prinsip-prinsip kejujuran sehingga itulah yang membuat kualitas kopi ini tidak pernah berubah dari masa ke masa. Usaha ini dirintis oleh ayahnya dan beliau melanjutkan usaha ayahnya ini dengan integritas yang tinggi.

Beruntung sekali saya dikasih kesempatan buat nyicip 2 kopi andalan Pabrik Kopi Aroma ini, Robusta rasanya memang sedikit lebih pahit tapi khasiatnya nendang banget!!!! buat mahasiswa atau para pekerja yang lagi dikejar deadline kopi ini cocok buat menemani setumpuk kerjaan. Dijamin mata melek terussss..!!! Nah yang kedua Arabica, kopi ini mempunyai aroma yang wangi banget, pokoknya menambah cita rasa untuk minum kopi deh, klo jenis kopi ini dapat dikonsumsi saat santai atau saat lagi ngumpul bareng karena aromanya membuat kita menjadi lebih rileks..Serus!!!!

Urusan harga, tenang..sesuai penjelasan saya tadi, Pak Widya Pratama ini bukan tipikal pengusaha yang maruk beliau mejual kopi-kopi berkualitas tinggi ini dengan harga yang cukup murah, untuk Robusta Rp 3000/ons sedangkan Arabica Rp4400/ons. Satu ons ini bisa dikonsumsi selama 1 minggu, Oihya beliau juga menyarankan pada saya agar tidak membeli terlalu banyak, belinya sedikit-sedikit saja yang penting rutin soalnya untuk menjaga aroma serta kualitas kopi, kopi jangan didiamkan dalam toples biasa dalam kurun waktu yang lama karena itu akan menurunkan kualitas kopi, jadi mending belinya sedikit-sedikit saja dulu agar kualitas dan aroma kopi terjaga. Wah..benar-benar seru bertemu tipikal pengusaha hebat seperti beliau yang tetap menjunjung tinggi integritasnya di tengah persaingan bisnis yang semakin gila..Salut, Standing Applause deh !!!!

Setelah mengantongi beberapa bungkus kopi sayapun melanjtkan perjalanan saya menuju Stasiun Bandung, karena rencananya hari ini saya akan melakukan perjalanan menuju Jakarta menggunakan KA Parahyanggan sebelum kereta ini dihapus tanggal 27 April besok T_T

note: karena gak bawa kamera jadinya gambar yang didisplay bukan gambar saya tapi ngambil dari berbagai sumber :)

Great Adventure around The Old Bandung :)

nanjak Papandayan

View dari atas Papandayan *Captured by Djoko*

weekend kemarin tepatnya tanggal 16-18 April 2010 saya mempunyai kesempatan trip bareng anak-anak share traveler nanjak ke Papandayan. Mumpung lagi kosong (lebih tepatnya mengosongkan diri hehe) sayapun join dengan beberapa kawan ST diantaranya Djoko, Imam, Ria, Niko, Mitra dan Nunu. dengan tempat dan jam  keberangkatan yang berbeda (saya dari Bandung langsung ke rumah orang tua di garut, sedangkan Djoko,Imam, Ria dan Niko berangkat dari Jakarta) kami bertemu di Terminal Guntur Garut sekitar pukul 05.45. kemudian kami mencari sarapan, sembari menunggu mereka ber4 sarapan saya pun membeli  logistik untuk keperluan di atas.

kami lalu menuju Cisurupan dengan men-charter angkot, kami membayar masing-masing sebesar 10 rb rupiah. Sampai di Cisurupan kami melanjutkan perjalanan dengan mobil bak (biaya perorangnya 12rb padahal sebenernya bisa 7-8 rb aja sih) smapai dengan Base Camp. Sampai di Base Camp kami melapor dan membayar biaya pendaftran 10rb (serombongan). setelah mendaftar kami pun langsung berangkat menuju tempat camp di Pondok saladah

sebelum memulai perjalanan *captured by Niko Chaniago

sesaat sebelum memulai perjalanan *captured by Niko Chaniago*

Gunung Papandayan merupakan salah satu gunung berapi  yang masih aktif di Jawa Barat. Berada di ketinggian 2622 mdpl gunung ini termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten bandung dan Kabupaten garut. Di Gunung ini masih terdapat beberapa kawah yang aktif yang siap meluapkan laharnya sewaktu-waktu. Gunung ini mempunyai jalur trek yang cukup unik kenapa bisa dibilang unik? karena jalur menuju puncak sangat bervariasi mulai dari jalanan landai, kemudian melewati kawah dengan sumur-sumur belerang yang mengeluarkan bau yang khas, semak-semak, jalana berbatu, tanjakan yang cukup terjal dan juga savanaedelweis yang mempesona :)

perjalanan menuju pondok saladah ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama dan melewati medan yang cukup terjal. Ini terjadi karena kami tidak menembus kawah yang ternyata bisa dilewati, alhasil kami membuang beberapa jam untuk melewati medan yang sebenarnya tidak perlu kami lewati huffhh…

setelah istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan, ditengah jalan kami berhenti sejenak di sungai yang mengalirkan air pengunungan yang alami dan segar. lalu melanjutkan perjalanan kembali. sebenarnya dahulu  track perjalanna menuju pondok selada lumayan landai, akan tetapi dikarenakan longsor yang terjadi saat Papandayan meletus tahun 2002 yang lalu track menuju pondok seladah diputar dan harus melalui perjalanan yang cukup menanjak. sekitar pukul 11 siang kami sampai di Pondok saladah lokasi tanah yang datar membuat kami memutuskan untuk mendirikan tenda disini. sebelumnya kaipun mengisi amunisi terlebih dahulu sebelum mencapai puncak.

setelah istirahat dan medirikan tenda, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak kali ini dengan beban yang berkurang karena kami hanya membawa ponco/jas hujan dan air minum saja. perjalanan menuju puncak kami melewati medan yang sangat terjal dan curam, kami melewati daerah aliran air yang sebenarnya bahaya untuk dilalui apalagi jika hujan turun. setelah melewati jalan yang cukup membingungkan akhirnya kami sampai di Tegal Alun, suatu padang Edelweis yang sangat indah seperti alun-alun suryakencana di TN Gede-Pangrango. dari sini kami melanjutkan perjalanan menuju puncak akan tatapi sayang, jalur yang tidak jelas dan hujan yang turun membuat kami urung menuju puncak dengan alasan pemandangan puncak yang tidak akan menarik selepas turun hujan. kami pun kembali menuju Pondok seladah dengan rute yang sama ketika menuju Tegal Alun, di tengah perjalanan kami tersesat dan kembali ke Tegal alun, kamipun menemukan jalur lain. jalur yang kami lalui untuk kembali ke Pondok saladah ternyata terdapat petunjuk sehingga kami menyimpulkan bahwa trek yang kami lalui menuju tegal alun tadi merupakan jalur yang ilegal (hadoooh) setelah beberapa jam menyusuri jalur yang licin akhirnya kami sampai di Pondok saladah dan kemudian istirahat mengembalikan energi yang telah habis terkuras.

jalur menuju pucak ILEGAL !! *captured by Niko Chaniago*

jalur menuju pucak ILEGAL !! *captured by Niko Chaniago*

Foto keluarga di Tegal alun..complete squad

Foto keluarga di Tegal alun..complete squad

Minggu 18 April 2010 kami menikmati pagi di Pondok saladah, udara yang segar tapi menusuk kulit. setiap orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Imam sibuk dengan rokoknya guna menghangatkan badan. Djoko yang ntah dimana keberadaanya mencari spot-spot yang bagus untuk foto keluarga, Niko yang asyik dengan kamera DSLRnya memotrek pemandangan-pemandangan mahadahsyat. Ria yang sibuk berdandan, Mitra dan Nunu yang asyik makan mengganjal perut dan saya sendiri yang asyik mengelilingi pondok saladah dan main air di sungai.

sekitar pukul 7pagi kami packing dan siap-siap kembali ke Base camp. ditengah jalan kami pun berhenti sejenak mengabadikan pemandanga-pemandangan mahadahyat yang dilukiskan Sang Khalik. kamipun melewati jalur yang kami lewati pada aal pendakian akan tetapi kali ini kami menerobos kawah yang ternyata menghemat waktu tempuh. pukul 11.00 kami tiba di Base Camp kami pun beristirahat sejenak.

setengah 12 kami turun menuju alun-alun cisurupan dengan menggunakan mobil bak, kali ini kami bersama rombongan dari Tangerang sehingga kali ini kami hanya membayar 8rb saja. Sampai di Cisurupan kami menuju rumah orang tua saya di jalan pembangunan dengan menggunakan angkot dan membayar sebesar 7rb kami sudah diantarkan menuju rumah orang tua saya di jalan pembangunan.

Perjalanan pun diakhiri di rumah orang tua saya, Imam, Djoko, Ria dan Niko kembali ke Jakarata dengan menggunakan bus sedangkan Mitra dan Nunu  kembali ke Bandung dengan mengunakan sepeda motor. saya pun beristirahat sebentar di rumah orang tua saya sebelum kembali ke bandung malam harinya.

perjalanan yang menyenangka, Terima kasih pada Allah SWT Sang Khalik yang Maha Dahsyat yang selalu memberikan saya kesempatan untuk menikmati kebesaranNya, teman2 Share Traveller Imam, Djoko, Ria, Niko,Mitra dan Nunu senang berjumpa dengan kalian :)

Back to Banduuung !!!

Wale (Warung Lela)

Genk-Gonk goes to Wale

kemaren, tepatnya setelah bejibaku dengan jadwal kuliah yang padat *hayhay Lebay ini mah* Saya, Andri, Abud dan Endah (lalu Abdul sama Wayu nyusul) berencana untuk makan malam diluar..seperti biasa kami harus beradu mulut dulu untuk menentukan tempat makan (gilee mau makan aja pake ribet sihh) akhirnya saya berinisiatif cari info tempat makan di Kang Google, dan dapetlah satu info tentang tempat makan di daerah dago atas yang highly recommended, namanya WALE……….

Wale alias Warung Lela (ntah yang punyanya namanya Lela atau yang dagang namanya mpok Lela) ini merupakan sebuah tempat makan dikawasan Bandung Utara alamat tepatnya di Jalan Kupa No 6 Komplek Ranca Kendal..Jadi klo dari simpang Dago lurus ke arah utara terus (searah ke Ciburial) nanti patokannya Cafe Stone..trus masuk ke arah kompleks..dari situ ikutin jalan ke arah Cafe Congo (ada petunjuk jalan buat ke Cafe Congo) dari Cafe Congo ikutin aja jalan..melewati Bumi Joglo..trus nyampe deh..!! Tempatnya cukup unik, bertema Etnik, seperti rumah2 di Jawa..ada dua lokasi cafe..diatas dan dibawah (dipisahnkan oleh jalan dan tempat parkir)

Awalnya saya yang berbudget pas-pasan ragu mau nyoba makan disini soalnya tempatnya bagus banget (kan biasanya tempat berbanding lurus dengan harga) tapi karena info yang saya dapet dari Kang Google menyebutkan klo harga makanan disini cukup murah akhirnya saya dan teman-teman masuk saja (lagian dah kadung di Wale masa mau balik lagi…??)

Balik lagi Ke Wale,  tempat ini cocok banget buat makan malam bersama orang spesial (hihihihih) soalnya tempatnya yang berada di daerah perbukitan Bandung Utara dengan view kota Bandung membuat suasananya gak kalh dengan the Peak ataupun Sierra Tapi makan berang temen-temen sdisini juga bisa jadi alternatif buat makan sambil ngobrol-ngobrol santai. Oiya, sebagian menu yang ditawarkan berupa mie-mie-an maksud saya berbagai macem mie, dari mulai mie bakso, mie yamin, dan mie2 yang lain tapi sayang menu bertema Nasi masih minim disini sehingga tempat ini lebih cocok buat anda yang hanya ingin mengganjal perut dengan makanan yang gak terlalu berat. Aneka minuman pun ditawarkan dengan variasi yang beragam, drai mulai minuman dingin dampai dengan minuman hangat yang sangat pas dinikmati di malam hari.

menu yang ditawarkan di Wale

Karena lagi pengen nasi, jadi saya pesen nasi tim ayam dan teh panas..sslluurrrpp

Maaslah harga..Gak usah kuatir..sesuai info dari Kang Google dan sesuai dengan hasil survey saya kemaren..ternyata harga disini cukup bersahabat, bahkan dengan ukuran kantong mahasiswa seperti saya hehehhe. Pokoknya gak usah kuatir masalah harga rata-rata menu yang ditawrakan berkisar antara 10-20rb untuk makanan dan untuk minuman dan dessert harganya gak akan melebihi 8000 perak. Ditmabah dengan suasana yang nyaman pokoknya worth it lah makan disini. Seriusaann urang mah..!!!!