Arsip Tag: Museum Kapal Selam

One day in Surabaya

Ceritanya kemarin saya mau pake tiket gratis voucher dari PT KAI perjalanan ke Surabaya pake KA Eksekutif Turangga, karena tiket voucher cuma berlaku sampai tanggal 25 pada bulan ini jadilah saya putuskan minggu ini berangkat walaupun sebenernya pekerjaan di Lab (baca: Tugas Akhir) masih belum kelar hehehe. Saya berangkat menggunakan KA 38 yang tepat pada pukul 19.00 meninggalakan stasiun Bandung. Perjalanan ditempuh dalam waktu 13 jam, dan tepat pukul 08.00 kereta sudah samapi di stasiun Gubeng Surabaya, 20 menit lebih cepat daripada waktu kedatangan yang tertera di tiket (woooohh)

Surabaya………..here i go……………!!!!

a. House of Sampoerna

House of Sampoerna

Bangunan ini merupakan rumah sekaligus pabrik pertama pendiri Sampoerna, Liem Seen Tee dan istrinya Tjiang Nio Museum  ini terletak di kawasan Surabaya Lama, kompleks megah bergaya kolonial Belanda ini dibangun pada tahun 1862 dan saat ini merupakan situs bersejarah yang dilestarikan. Ada 4 ruangan utama ditempat ini, di tempat pertama ini terdapat barang-barang yang mempunyai nilai histories bagi perkembangan Sampoerna diantaranya replika warung pertama yang dimiliki oleh Liem Seen Tee dan Tjiang Nio, sepeda pertama yang digunakan Liem Seen Tee berjualan, juga foto-foto pribadi Liem Seen Tee bersama keluarganya. Beranjak ke ruangan kedua, tempatnya tidak seluas ruang pertama karena disini hanya disajikan foto-foto direksi PT Sampoerna dari masa ke masa. Memasuki ruangan ketiga disini kita dapat melihat-lihat jenis-jenis rokok yang telah diproduksi PT Sampoerna, ada juga replika kios-kios kaki lima yang diberikan oleh PT Sampoerna, kemudian disini juga terdapat seragam Marching Band PT Sampoerna yang pernah digunakan dalam sebuah kompetisi di Amerika Serikat dan berhasil memenangkan parade terbaik dengan mengangkat tema “Unity of Divesrsity” alias “Bhineka Tunggal Ika”. Lanjut ke lantai 2 sekaligus ruangan terakhir, disini sebenarnya hanya satand souvenir tapi dari lantai ini juga kita dapat melihat dari dekat proses pelintingan rokok yang masih dilakukan secara tradisional. Proses pelintingan kretek ini masih dilakukan oleh wanita-wanita pelinting rokok dengan sangat cepat, wanita-wanita pelinting rokok ini sanggup untuk melinting lebih dari 325 batang rokok PER-JAM !!!! dan ketika melihat secara langsung proses pelintingan maka mulut ini tak henti-hentinya berdecak kagum atas kepiawaian wanita-wanita ini yang apik dalam melinting rokok dengan kecepatan super. Walaupun museum ini tidak seluas museum Geologi di Bandung ataupun museum Fatahillah di Jakarta tapi karena pengemasan yang apik membuat tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung. Oiya..bagi yang ingin berkeliling Surabaya menikmati sisa-sisa masa lampau, tempat ini juga menyediakan fasilitas Surabaya Heritage Tour sebuah bis kecil yang disediakan House of Sampoerna untuk pengunjung yang ingin menjelajahi kota lama, tugu pahlawan, museum tugu pahlawan dan lain-lain, yang pasti biar bisa ikut Surabaya tour ini disarankan untuk reservasi terlebih dahulu.

Replika warung pertama Liem Seen Tee

b. Monumen Pahlawan

Sebuah Landmark yang menjadi saksi perjuangan bangsa ini terletak masih terletak di kawasan Surabaya lama, tepat di depan kantor Gubernur Jawa Timur, tau beberapa meter dari stasiun kereta api Surabaya Kota. Sayang sekali niatan saya untuk mengunjungi museum tugu pahlawan ini tidak bisa terealisasikan karena museum tutup pada hari sabtu, akhirnya saya hanya bisa memotret tugu pahlawan dan patung Soekarno-Hatta.

Tugu Pahlawan

c. Museun Kesehatan (museum santet)

"museum santet"

Museum yang diberi nama resmi Museum dr Adhyatama, MPH ini lebih dikenal dengan nama museum santet oleh masyarakat. Hal ini disebabkan karena museum yang dirintis oleh Dr.dr.Haryadi Soeparto ,DOR, Msc ini menggabungkan unsure medis dan unsure kebudayaan dalam perkembangan kesehatan di Indonesia khususnya di pulau Jawa. Di museum ini terdapat dua ruangan pameran, pertama ruangan medis dimana pada tempat ini dipamerkan alat-alat medis yang digunakan pada masa lampau, alat-alat untuk operasi, alat-alat untuk cabut gigi, ada juga alat-alat reproduksi seperti alat bantu seks untuk pria dan wanita, bahkan yang membuat saya sedikit cekikian ada celana antiperkosaan yang mana celana ini dilengkapi gembok pada resletingnya (hadoooh) Setelah berkeliling ruang medis, lanjut menuju ruang kebudayaan. Ruangan ini menunjukan pada pengunjung bagaimana kebudayaan mempengaruhi pola pikir masyarakat dalam dunia kesehatan. Di ruangan ini terdapat beberapa kepercayaan masyarakat dalam penyembuhan suatu penyakit diantaranya Jelangkung dan Ninik Thowok yang dipercaya dapat dijadikan media untuk mengetahui penyakit apa yang diderita seseorang, ada juga air-air yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit termasuk air PONARI yang sempat heboh beberapa tahun kebelakang . Selain itu ada juga media-media penangkal penyakit non-medis seperti santet, teluh atau guna-guna. Disni juga diperlihatkan kebiasaan atau tradisi masyarakat dalam melindungi putera-atau puterinya daei penyakit seperti tradisi kurungan, atau terapi mainan dan lain-lain. museum ini memberikan kita pengetahuan tentang dunia kesehatan terutama melihat dunia medis dari berbagai aspek, sayang kurangnya sosialisasi membuat museum yang terletak di Jalan Indrapura ini kurang diketahui oleh masyarakat luas padahal harga tiket masuk ke museum ini tidak lebih mahal dari segelas es cendol dan petugas yang bertugaspun sangat informatif sehingga akan menambah khasanah pengetahuan kita di bidang kesehatan.

celana anti perkosaan

d. Museum Kapal Selam

salah satu tempat yang menarik jika berkunjung ke Surabaya adalah museum Kapal selam, museum ini terletak di jalan pemuda. Letaknya tidak jauh dari stasiun Kereta Api Gubeng. Dengan hanya membayar Rp5000,- kita sudah dapat menikmati museum plus videorama tentang kapal selam milik Republik Indonesia. Memasuki ruangan kapal kita akan memsuki beberapa sekat ruangan, dimana ruang pertama merupakan ruang torpedo, terdapat enam buah torpedo dalam kapal selam ini. Memasuki ruang kedua kita bisa melihat panel-panel pengendali ruang control kapal, diruang berikutnya terdapat teleskop untuk melihat musuh atau untuk melihat kapal yang berapa di permukaan laut. Di kapal ini juga dilengkapi dengan ruangan awak untuk beristirahat, dapur serta tempat menyimpan cadangan makanan. Kapal selam yang dipajnag disni adalah kapal selam dengan nama PASOPATI, kapal ini dibeli oleh pemerintah Indonesia dari Uni Soviet bersamaan dengan 3 kapal lainnya. Kapal selam ini telah mengantarkan bangsa ini dalam masa perjuangan pengintaian batas laut Indonesia ynag ditetapkan oleh Belanda, operasi pembebasan Irian Barat dan masih banyak lagi. Kapal ini dimiliki oleh TNI Angkatan Laut guna melengkapi perlengkapannya untuk mempertahankan Indonesia sebagai Negara Maritim terbesar di dunia. Seiring dengan perkembangan teknologi, kapal selam-kapal selam buatan uni Soviet ini dibebastugaskan dan digantikan dengan kapal selam buatan German yang lebih canggih, untuk mengabadikan jasa kapal-kapal selam ini maka dibuatlah museum kapal selam ini dengan Kapal selam PASOPATI sebagai iconnya.

Kapal Selam PASOPATI

e. Taman Bungkul

Merupakan taman kota yang terletak di jalan raya Darmo, taman yang cukup nyaman untuk sekedar “ngadem” dari teriknya Surabaya ini juga dilengkapi dengan fasilitas Wi-Fi, tak cuma itu ada juga perpustakaan keliling yang menyediakan buku bacaan untuk kita nikmati sambil bersantai.

Taman Bungkul

f. Patung Surabaya

tak lengkap rasanya jika berkunjung ke suatu kota melewatkan icon kota tersebut. Mumpung masih di Surabaya, sayapun menyempatkan mengunjungi icon kota Surabaya yaitu patung Suro dan Buoyo yang terletak di jalan diponegoro tepat di depat kebun binatang Surabaya

Suro-Buoyo

g. Pasar Genteng

Niatanya mampir ke pasar ini adalah untuk membeli Lontong Balap khas Surabaya tapi sayang memang belum rezekinya, Lontong Balap-pun tidak bisa saya nikmati karena telah habis akhirnya saya hanya bisa menikmati es degan untuk menghilangkan dahaga saya. Pasar Genteng ini merupakan pasar tradisional yang menyediakan oleh-oleh khas Surabaya seperti Kerupuk Udang, Kerupuk Belinjo, Petis dan lain-lain. pasar ini terletak tidak jauh dari daerah Tunjungan. Jadi jika nanti saya berkesempatan kembali lagi ke Surabaya saya sudah tau dimana saya harus membeli buah tangan :)

Pasar Genteng

Lengkap sudah perjalanan sehari saya mengelilingi Surabaya, pukul 16.00 saya sudah berada di Stasiun Gubeng untuk kembali ke Bandung. Dan tepat pukul 18.00 KA Eksekutif Turangga meninggalkan Stasiun Gubeng menuju Stasiun Bandung

Thank’s to : Allah SWT yang selalu memberikan saya a great time to adventure, PT KAI yang sudah memberikan voucher tiket KA Eksekutif Turangga pokok’e mangan ora mangan sing penting naek spur, Tyo my best buddy yang sudah mengantar saya berkeliling Kota Surabaya.

Rek Ayo Rek Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan..!!!!!!