Jajan, jajan dan jajan di Petchaburi Soi 7

Seperti halnya kota-kota di Indonesia, Bangkok juga terkenal dengan jajanan kaki lima-nya atau bahasa kerennya street food dan sebagai tukang jajan gak afdol rasanya kalo saya gak icip-icip street food di kota ini namun sebagai muslim traveller tentu saja saya concern sama kehalalan makanannya jadi ya perlu milih-milih juga mana yang kira-kira bisa dimakan dan mana yang enggak.  Beruntung, walaupun mayoritas masyarakat Bangkok bukan muslim tapi disana gak susah buat kita cari jajanan halal.

Salah satu kawasan yang banyak menjajakan jajanan enak dan halal adalah daerah Petchaburi tepatnya di Petchaburi Soi 7. Kawasan ini sendiri banyak ditinggali oleh komunitas muslim yang rata-rata berasal dari wilayah selatan Thailand dan Malaysia jadi di wilayah ini banyak makanan halal dari mulai makanan berat sampai dengan cemal-cemilan yang bikin nagih.

Setelah capek seharian menyusuri kota, saya memutuskan untuk mengisi tenaga di Restoran Farida Fatornee, sebuah rumah makan yang menyediakan makanan rumahan ala melayu seperti nasi lemak, rendang, gulai ikan dan berbagai jenis masakan rumahan lainnya. Soal harga, tenang …… makanan disini cukup terjangkau kok sepiring nasi, ayam goreng dan sayur hanya merogoh kocek 60 bath saja.

Melangkah beberapa meter dari rumah makan Farida Fatornee, masuklah saya ke Petchaburi Soi 7 untuk icip-icip jananan halal nan lezat. Pemberhentian pertama adalah stall ayam crispy dan poh pia tod (lumpia basah). Ayam krispi-nya enak dan gurih karena micinnya banyak hahhaha *generasi micin : detected* kalo poh pia tod-nya lumayan enak juga karena sayurannya segar dan peanut dipping sauce-nya yang bikin nagih sueer!!. Sepotong fillet ayam crispy a la ala shinlin dan satu porsi poh pia isi 5 pcs cukup merogoh kocek 50 bath saja. Beberapa meter dari stall ayam crispy saya kembali jajan sosis dan bakso goreng seharga 20 bath yang isinya kurang lebih 6 potong sosis dan 6 pcs bakso goreng, rasanya? beuuhhh enak karena dipadu dengan sauce asam pedas khas Thai

Setelah kalap dengan beberapa jajanan, saya lanjutkan wisata kuliner di Petchaburi ini dengan menyantap semangkok Kua Chap. Ini pertama kali-nya saya makan kua chap awalnya saya kira  seperti Pad Thai tapi ternyata bukan walaupun bahan dasarnya sama-sama dari tepung beras namun bentuk kua chap ini unik sebelum dimasak bentuknya berupa lembaran lembaran persegi panjang dan setelah dimasak menjadi lintingan-lintingan silinder. Kua Chap ini disajikan dalam semangkok kuah kaldu yang gurih bersama dengan potongan daging ayam, tahu dan telur. Biar tambah jos gandos saya tambahkan dengan irisan cabe rawit. Semangkok Kua Chap ini dibandrol dengan harga 40 bath saja

Setelah mencicipi semangkok Kua Chap yang lezat ini saya sempat ngobrol sebentar dengan Kak Azis pemilik warung Kua Chap ini, beliau berasal dari Pattani provinsi di Thailand bagian selatan, menurut dia waktu yang pas untuk foodhunting disini adalah sore ba’da (setelah) magrib karena di waktu itu stall-stall sudah siap menjajakan makanan. Memang sih, saat itu saya datang “kepagian” setelah sholat ashar jadi beberapa kedai juga masih bersiap-siap menyiapkan dagangannya. Tapi tak apalah segini juga udah uyuhan *saya gak tau euy bahasa Indonesia-nya uyuhan teh apa hahahha*

Setelah puas menyantap semangkok Kua Chap, awalnya saya mau menyudahi perburuan jajanan disini tapi setelah melewati kedai Kuai tiao, iman saya goyah *lemah euy kalo udah berhubungan sama makanan enak mah* dan akhirnya melipir untuk menyantap semangkok mie yang menggoda selera dan juga menggoda iman T.T. Kuai Tiao atau Boat Noodle ini sebenernya mirip-mirip sama mie bakso yang biasa saya makan di Jakarta tapi Kuai Tiao ini pake bihun (rice noodles) dan juga cita rasa kuahnya asem-asem seger yang bikin mata melek terus *yaiyalah…kekmana lah makan sambil merem*

Semangkok Kuai Tiao meyudahi perjalanan kuliner saya di Petchaburi Soi 7 ini, overall jajanan di kawasan ini enak-enak, halal dan gak menguras dompet tentunya. Bisa jadi alternatif kulineran buat kalian yang abis kalap belanja di Pratunam ataupun MBK Mall karena lokasi-nya gak terlalu jauh dari sana.

Karena perut kenyang akan membuat hati senang #Sikap

Iklan

Menjajal Transportasi Air di Bangkok

Ketika kemacetan di Jakarta terkadang bikin saya frustasi, bersyukurlah karena saya gak tinggal di Bangkok. Macet emang gak cuma bikin waktu terbuang tapi juga bikin naik pitam. I thought Jakarta’s traffic is bad, Bangkok is even worse hahaha. Tapi walaupun begitu moda transportasi disana cukup lengkap dari mulai bus, MRT, BTS sampai dengan water taxi sehingga kita bisa menentukan moda apa yang bisa jadi alternatif tercepat untuk sampai tujuan. Oke, kali ini saya mau cerita tentang water taxi atau transportasi air yang biasa digunakan masyarakat Bangkok untuk menunjang aktivitas mereka sehari-hari.

1. Chao Phraya Express

Chao Phraya Express ini merupakan kapal-kapal penumpang yang digunakan sebagai alat transportasi dari satu tempat ke temat lain di sepanjang aliran sungai Chao Phraya  dari utara ke selatan ataupun sebaliknya. Tarif yang dikenakan berkisar 10-30 Bath tergantung jarak tujuan dan waktu sibuk warga lokal, tidak ada patokan seperti BTS atau MRT. Chao Phraya Express ini memiliki identitas sesuai dengan warna bendera-nya, warna bendera ini menunjukan rute dan juga dermaga yang dilewati, jadi bagi kalian yang ingin menggunakan moda transportasi ini bisa lihat tabel rute yang ada di tiap dermaga. Berikut jenis-jenis chao phraya express berdasarkan warna benderanya :

  • Biru : Kapal ini digunakan sebagai kapal khusus turis (chaophraya tourist boat) dan hanya berhenti di 8 dermaga yang dekat dengan tujuan populer para wisatawan yaitu : Sathorn (Central Pier yang tekoneksi dengan Stasiun BTS) – Oriental Pier – Si Phraya River (Dinner Cruise) – Ratchawong Pier (Chinatown) – Tha Tien Pier (Wat Arun & Wat Pho) – Maharaj Pier (Grand Palace, Wat Phra Kaew) – Wag Lang Pier (Royal Barges Museum) – Phra Arthit (Khao San Rd, National Art Gallery). Tarif untuk kapal berbendera biru ini adalah 40 Bath untuk sekali jalan namun jika ingin lebih hemat kita bisa membeli paket turis seharga 150 Bath yang dapat digunakan berkali-kali di 8 dermaga ini. Karena khusus wisatawan, kapal ini menyediakan guide berbahasa inggris selain itu juga tempat duduknya nyaman dan yang pasti gak berdesak-desakan seperti kapal reguler hehehehe. Jadi kalo tujuan kalian memang hanya untuk mengunjungi icon-icon Bangkok tersebut gunakanlah tourist boat ini.
  • Orange : Kapal ini menyusuri sungai chao phraya dengan rute Nonthaburi – Wat Rajsinkorn PP, tarif sekali jalan untuk kapal berbedera orange ini sebesar 15 Bath
  • Kuning : Kapal ini menyusuri sungai chao phraya dengan rute Nonthaburi – Rajburana PP, tarif sekali jalan untuk kapal berbedera orange ini sebesar 20-30 Bath. Kapal ini memiliki dermaga pemberhentian yang lebih sedikit daripada kapal berbendera orange sehingga tarifnya pun sedikit lebih mahal
  • Hijau : Kapal ini menyusuri sungai chao phraya dengan rute Pakkret – Sathorn PP, tarif sekali jalan untuk kapal berbedera orange ini sebesar 15-32 Bath.
  • No Flag : Kapal ini menyusuri sungai chao phraya dengan rute Nonthaburi – Wat Rajsinkorn PP dan berhenti di setiap dermaga. Tarif untuk jenis kapal ini dibawah 15 bath lebih murah daripada kapal berbendera orange mengingat waktu tempuh yang lebih lama karena harus berhenti di setiap dermaga.
chaophrayaroute

Image source by chaoprayaexpressboat.com

2. Khlong Saen Saep

Berbeda dengan Chao Phraya Express yang menyusuri sungai besar, moda ini membelah sungai (khlong) Saen Saep yang lebih kecil namun cukup vital karena bisa jadi sarana transportasi yang cukup efektif untuk membelah kota Bangkok dari Bang Kapi sampai dengan Panfa Leelard. Ada 2 jalur yang dilayani moda transportasi ini dengan dermaga transit berada di Pratunam, jadi misalkan dari Chitlom mau ke MBK pertama pake Jalur Timur (NIDA Line) sampai dengan Pratunam setelah itu ganti perahu Jalur Barat (Golden Mount Line) sampai dermaga Hua Chang.

  • Jalur Barat (Golden Mount Line) : Jalur ini melayani rute Pratunam – Panfa Leerald (Wat Saket) dengan total ada 8 dermaga yang dilewati. Pratunam (Platinum Mall, Pratunam Market) – Hua Chang (National Gallery, MBK Mall) – Ban Krua Nua (National Stadium, Petchaburi Rd) – Charoen PhonBobe MarketPanfa Leerald (Wat Saket)
  • Jalur Timur (NIDA Line) : Jalur ini lebih panjang menyusuri 23 dermaga dengan rute Pratunam ke timur sampai  Wat Sriboonreung. PratunamChitlomWitthayuNana NueaNana ChardAsokePrasan MitItalThaiWat Mai Chong LomBaan Don MosqueThong Lo Chan IssaraViji SchoolKhlong TanRam 1Mall RamkhaengRamkhaeng 29Wat ThepleelaRamkhaeng UniversitySapan MitThe Mall of BangkapiBang KapiWat Sriboonreung

Tarif sekali jalan Khlong Saen Seap express ini berbeda-beda tergantung jaraknya dan di sepanjang jalan kernet akan berkeliling kapal untuk menarik uang dari penumpang. Bayarlah dengan uang pas sesuai dengan tujuan karena kadang si kernet gak terlalu ngeh kita mau kemana apalagi klo kita bukan orang lokal walaupun kita udah bilang dermaga tujuannya. Sama halnya dengan Chao phraya express, Khlong Saen Saep ini juga jadi moda favorite warga Bangkok untuk menghindari macet, jadi kalo niatnya untuk susur sungai doank mah sebaiknya jangan dilakukan saat rush hour.

IMG_8629.JPG

3. Ferry Boat

Kalo yang ini sih biasanya hanya digunakan sebagai sarana penyebrangan antar kawasan yang dipisahkan sungai Chao Phraya. Moda ini efektif untuk meringkas waktu tempuh antar tempat yang terpisah oleh sungai terbesar di Thailand ini. Misalnya saja waktu saya ke Bang Krachao dari Bang Na Pier gak sampe 5 menit sudah sampai beda halnya jika saya menggunakan mobil bisa lebih dari setengah jam karena akses darat yang cukup jauh. Tarif sekali jalan cukup murah yaitu hanya 4-5 bath.

Mungkin bukan hal asing bagi orang Indonesia dengan moda ini terutama untuk daerah-daerah yang memiliki sungai besar seperti di Palembang, Banjarmasin, Samarinda, dll namun bisa dibilang ini pengalaman pertama buat saya mencoba transportasi air yang ada di kota metropolitan. Ahh.. jadi inget rasanya dulu di Jakarta juga pernah ada semacam water taxi ini tapi belum sempat terekspose kemudian hilang begitu saja. Pemanfaatan sungai sebagai jalur transportasi di kota besar ini menurut saya sebenarnya sangat bagus karena bisa memecah konsentrasi moda angkutan di jalan dan juga masyarakat bisa memiliki alternatif angkutan cepat lainnya yang mungkin tidak terfasilitasi oleh BTS atau MRT.

Jadi, kapan nih Jakarta punya water taxi lagi ?? #Kode 😉

 

Berburu Seni Mural dan Bangunan Klasik di Georgetown

DCIM100MEDIA

Tahun lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi Penang, sebenarnya plan untuk datang ke sini terlintas secara tiba-tiba hanya gara-gara menemukan harga tiket maskapai LCC dengan rute CGK-SIN-PEN jauh lebih murah daripada  rute CGK-KUL. Tanpa perencanaan dan serba mendadak 3 hari setelah booking tiket akhirnya saya berangkat #ThePowerofSoloTraveller.

Penang merupakan negara bagian yang terdiri dari dua wilayah yaitu Seberang Perai dengan Ibu kota Butterworth dan Pulau Pinang dengan ibu kota Georgetown. Georgetown sendiri merupakan kota tua telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai World Heritage Site atau Situs Warisan Dunia pada tahun 2008. Bagi penggiat wisata sejarah ataupun arsitektur kota ini bisa menjadi salah satu destinasi pilihan karena banyak sekali bangunan-bangunan klasik dan cantik yang masih kokoh berdiri.

Berkeliling berburu seni mural ataupun bangunan-banguna klasik di kota Georgetown ini dapat dilakukan dengan berjalan kaki karena selain jarak antar street art satu dengan yang lainnya cukup berdekatan, kota ini sangat ramah terhadap pejalan kaki dimana pedestrian-pedestrian dibangun dengan cukup luas dan baik, selain itu juga tidak banyak kendaraan yang melintasi street art ini sehingga kita dapat berjalan kaki dengan aman dan nyaman. Namun bagi kalian yang enggan berjalan kaki, bisa juga berkendara dengan menggunakan sepeda yang banyak disewakan penginapan-penginapan yang ada di sana ataupun dengan menggunakan becak wisata yang tersebar di setiap sudut jalan.

Pagi hari sekitar jam setengah 7 saat aktivitas kota masih belum menggeliat, saya sudah bergegas dari penginapan. Saya memang sengaja untuk berkeliling street art Georgetown pada pagi hari karena selain masih sepi dari antrian turis-turis yang ingin mengambil foto, Penang di siang hari juga cukup terik yang tentunya akan menguras banyak tenaga. Karena jarak dari Oscar Guesthouse ke street art cukup dekat, saya memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri jalan-jalan di kota ini. Menyusuri jalan-jalan dengan bangunan-bangunan klasik yang tetap kokoh berdiri di kota ini membuat saya seolah-olah flashback ke masa lalu.

Selain bangunan-bangunan klasik peninggalan masa lampau, seni mural yang tergambar di dinding-dinding bangunan tua di kota ini juga menjadi daya tarik Georgetown. Adalah Ernest Zacharevic, seorang seniman asal Lithuania yang merupakan aktor dibalik terciptanya mural art street yang cantik dan tentunya sangat instagram-able. Gambar mural terpampang di dinding-dinding tembok rumah warga di sepanjang Lebuh Armenian, Lebuh Ah Queen, Lebuh Acheh sampai dengan Lebuh Chulia. Tidak semua mural terpampang di jalan-jalan besar memang, ada kalanya kita harus masuk ke lorong-lorong gang untuk bisa menemukan gambar-gambar mural yang artistik.

Setelah puas menikmati seni mural, saya beranjak ke arah utara tepatnya menuju Taman Kota Lama yaitu sebuah lapangan terbuka yang biasanya dijakdikan tempat berolah raga ataupun tempat bersantai dengan pemandangan pantai oleh warga ataupun wisatawan. Di tempat ini terdapat bangunan bergaya art deco peninggalan Inggris yang sekarang dijadikan kantor Majelis Bandaraya Pulau Pinang. Selain kantor pemerintahan kota, di kawasan ini juga terdapat sisa pendudukan Inggris berupa benteng pertahanan yang bernama Fort Cornwallis yang sudah didirikan sejak tahun 1786 namun saya tidak tidak sempat masuk ke dalam benteng tersebut karena memang belum buka.

Saya kembali melanjutkan explorasi saya di kawasan kota lama Georgetown. Dari Taman Kota Lama saya ke arah timur menuju Clan Jetty atau pemukiman warga yang berada di atas air. Sepanjang perjalanan menuju Clan jetty mata saya dimanjakan dengan pemandangan bangunan tua yang sarat akan sejarah. Gedung-gedung tua peninggalan Kolonial Inggris yang saat ini digunakan sebagai perkantoran ataupun museum tetap terawat tanpa meninggalkan unsur klasiknya.

Clan Jetty atau kampung air ini terletak di ujung timur kota Georgetown, tidak jauh dari pangkal Lebuh Chulia tepatnya di Pengkalan Weld. Sebenarnya Clan Jetty ini hanyalah sebuah pemukiman warga yang berada di tepi laut namun lagi-lagi karena pemerintah Malaysia sangat apik dalam mengelola pariwisatanya sehingga sebuah perkampungan tepi lautpun bisa dijadikan komoditi untuk menarik wisatawan yang datang *Yang begini begini sih yang harusnya ditiru sama kementrian pariwisata Indonesia..tapi ya sudahlah yah*

Clan Jetty ini merupakan perkampungan yang didirikan oleh imigran asal Tiongkok yang datang ke Penang. Clan Jetty ini pada mulanya ada sebanyak 7 lokasi namun 1 lokasi hancur karena insiden kebakaran, saat ini hanya tinggal ada 6 Clan Jetty (Lim Jetty, Chew Jetty, Tan Jetty, Lee Jetty, Yeoh Jetty dan Mix Clan Jetty). Dari 6 Clan Jetty yang ada Chew Jetty lah yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Untuk sampai ke kawasan ini caranya sangat mudah, bisa berjalan kaki seperti yang saya lakukan ataupun menggunakan becak wisata.

Menyusuri Hutan Kota Negri Singa

IMG-20160728-WA0006-01

Mumpung lagi hangat-hangatnya peresmian Forest Walk Babakan Siliwangi di Bandung, saya jadi keingetan buat nulis tentang Forest Walk-nya Singapura yang pernah saya sambangi beberapa waktu lalu.

Singapura memang sangat concern dalam mempertahankan hutan sebagai paru-paru kota salah satunya The Southern Ridges. Meski tidak luas mengingat negara ini juga hanya seluas Jakarta namun keberadaan hutan kota ini sangat dijaga sebaik-baiknya. The Southern Ridges merupakan kawasan hijau yang terdiri dari beberapa hutan kota yaitu Mt. Faber, Telok Blangah, Kent Ridge Park, Hort Park dan Labrador Nature Reserve. Banyak warga ataupun wisatawan yang memanfaatkan kawasan ini untuk tempat berolah raga seperti running, yoga, ataupun sekedar berjalan kaki namun tidak sedikit juga wisatawan yang datang kesini untuk sekedar berfoto di Handerson Bridge sebuah jembatan kayu sepanjang 274 meter yang bangunannya cukup artistik dan cantik yang menghubungkan kawasan Mt. Faber Hill dengan Telok Blangah Hill.

PhotoGrid_1516242003688

Tempat ini cukup mudah dijangkau dengan kendaraan umum, dari halte bus Vevo City (Harbour Front) kita bisa menggunakan bus no 145 dan turun di halte kedua Handerson Rd jika tujuan kita ke Mt. Faber – Telok Blangah atau gunakan bus no 57 dan turun di halte pertama Alexandra Rd jika tujuan kita ke Kent Ridge Park atau Hort Park.

Rute forest walking yang saya lakukan adalah dari Handerson Bridge sampai dengan Alexandra Arch dengan menyusuri Hilltop Walk sepanjang lebih dari 2 km. Waktu terbaik untuk beraktivitas di kawasan ini adalah pagi hari ataupun sore hari saat sinar matahari mulai meredup. Memang waktu kedatangan saya saat itu kurang pas karena sudah lebih dari jam 10 siang, untunglah rindangnya pepohonan sepanjang jalan bisa menahan teriknya Singapura. Untuk penggiat trail running, tempat ini sangat cocok dijadikan destinasi jika berkunjung ke Singapura, bisa dilakukan dengan rute Mount Faber – Handerson Bridge – Hilltop Walk – Alexandra Arch – Hort Park dan berakhir di Kent Ridges ataupun rute sebaliknya.

PhotoGrid_1516242114834

Berada di tempat ini kita bisa merasakan sisi lain negeri Singa. Singapura dengan segala gemerlapnya kota, ternyata mempunyai tempat yang membuat kita lebih dekat dengan alam. Kicauan burung ataupun suara pohon yang tertiup angin seolah menutupi bising-nya deru mesin kendaraan ataupun crane-crane yang sedang membangun gedung-gedung pencakar langit.

IMG-20160728-WA0007

Sedikit tips sebelum menyusuri kawasan The Sothern Ridges :

  1. Pakailah alas kaki yang nyaman dan pakaian quick dry, kecuali hanya ingin foto-foto di satu spot saja
  2. Bawalah air minum secukupnya, karena seinget saya tidak banyak toko-toko yang menjual makanan/minuman
  3. Jangan buang sampah sembarangan

Happy forest walking gaes 🙂

Menghubungkan Kode Booking ke Akun AirAsia

Pernah gak sih beli tiket Air Asia via online agency seperti Traveloka, PegiPegi, Tikecom dll terus lupa nambahin bagasi atau bingung pengen pesen preorder meal tapi gak ada pilihannya?

Samaa, saya juga pernah !! hahahaha… Booking penerbangan Air Asia via online agency  bisa jadi dapet harga lebih murah daripada di website resmi atau apps-nya. Tapi memang menu tambahan lain seperti pembelian makanan, kursi pilihan atau comfort kit tidak tersedia pada layanan online agency tersebut atau ternyata butuh upgrade size bagasi. Jadi gimana donk kl udah kadung beli tiket AA via online booking lain dan perlu membeli menu tambahan?

Gak perlu khawatir….. ternyata selain menghubungi call center AA, kita juga bisa melakukan peembelin menu tambahan dengan melakukan sinkronisasi ke akun air asia.

Berikut cara melakukan sinkronisasi untuk melakukan pembelian menu tambahan pada maskapai Air Asia :

1. Masuk terlebih dahulu ke situs Air Asia, jika belum mempunyai log in ID ya buat dulu lah yah..

1

2. Masuk ke menu pembelian saya, lalu cari menu cari pembelian lain

2

3. Klik menu cari pembelian lain, setelah itu isi kolom kosong dibawah dengan menggunakan kode booking yang kita dapet dari online agency

3

4. Setelah itu akan masuk ke menu konfirmasi, silahkan klik tombol update detail sampai dengan muncul field untuk diisi

4

5. Isi mandatory field (tanda * merah) dengan nomor telpon dan email agar informasi tentang penerbangan (reschedule, cancel dll)

6

6. Setelah terupdate, check ke menu pembelian saya apakakah kode booking kita sudah terkoneksi di sistem Air Asia. Jika sudah muncul info pembelian tinggal klik menu modify untuk melanjutkan transaksi yang diinginkan.

71.png

8

Mudah bukan? dan sinkronisasi ke akun air asia ini juga bebas biaya sehingga lebih ekonomis dibandingkan harus menelpon call center #OgahRugi. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat yah… 😀

The Halal Guys, Menu Platter ala New York’ers

Saya pernah liat salah satu tayangan di Youtube tentang makanan-makanan populer di Negeri Paman Sam, salah satunya The Halal Guys yang cukup terkenal di New York. Street fastfood restaurant yang dirintis oleh 3 orang imigran Mesir ini awalnya menjual hot dog namun seiring berjalannya waktu dan potensi besar customer muslim yang kebanyakan para pengemudi taxi akhirnya mereka menjual hidangan platter.

Beruntung, The Halal Guys ini hadir di Jakarta bulan April 2017 lalu tepatnya di Senayan City Mall. Karena resto ini memang sudah terkenal dan cukup banyak review-review positif di berbagai media review di Amerika, antusiasme masyarakat Indonesia *errr…tepatnya Jakarta sih* cukup tinggi, hal ini terlihat dari beberapa bulan awal opening selalu padat antrian.

Penasaran dengan menu timur tengah bercitarasa amerika, saya pun baru bisa menyempatkan mencoba hidangan ini kemarin. Tepatnya selepas pulang kantor saya melipir sebentar ke Sency buat makan. Tempatnya sendiri untuk di Senayan City ini tidak terlalu besar, karena memang konsep asli yang mereka usung itu take and go jadi untuk dine in tidak terlalu banyak kursi dan meja yang bisa dipakai. Beruntung kemarin sedang tidak ada antrian jadi bisa makan dengan tenang dan nyaman.

Menu yang saya pilih adalah Regular Combo Platter. Combo platter ini terdiri dari nasi briyani, daging ayam, gyro (daging kebab yang dipotong kecil), roti pita, sayuran (daun lettuce dan irisan tomat segar) dan saus khas The Halal Guys yang terdiri dari white sauce (mayonaise based), hot sauce (chilli based) dan barbque sauce. Ternyata setelah saya coba, rasanya enaaaak!!! Nasinya enak, rempahnya tidak terlalu kuat tapi pas, daging ayam dan gyro-nya lembut dan gurih, sayurannya segaaaar dan yang terbaik sih emang saus-nya…..HAOCEEEE !!!! Duh, yang saya cobain disini aja enak banget gimana kalo nyoba yang original-nya di New York sana yah *semoga dikasih kesempatan buat nyicip the original one di New York , amiiin Ya Allah*.

IMG_20180105_193729_HDR-01

Seporsi regular platter dihargai 55k untuk ukuran large 80k. Selain menu berat berupa platter dan sandwich mereka juga menjual side dish khas timur tengah seperti hummus, baba ghanouj, taboulah, baklave dan juga french fries dengan harga berkisar 15-25k.

The Halal Guys
Mall Senayan City Lantai 5, Jakarta Selatan

Dikepret Seblak Jebred

Minggu lalu kebetulan saya ada tugas kantor di Bandung dan selama saya bertugas, Bandung kerap diguyur hujan. Pulang kantor pas hujan bikin perut meronta-ronta buat diisi yang anget-anget. Karena indomie udah terlalu mainstream buat dicemil *yelaah indomie mah buat cemilan doank* akhirnya saya melipir ke warung seblak jebred.

Sedikit cerita tentang seblak, jadi si seblak ini aslinya adalah makanan yang berasal dari kerupuk aci yang diseduh sehingga teksturnya jadi kenyal-kenyal gitu lah kemudian diberi bumbu atom *generasi micin pasti tau lah hahaha* dan biasanya terjaja di sekolah-sekolah SD, namun sekarang melalui sedikit modifikasi seblak jadi makanan yang sedang naik daun. Sebagai anak USA (Urang Sunda Asli-red) rasanya bangga jajanan masa kecil saya bisa jadi panganan yang meng-global #halah #naon

Selayaknya makanan-makanan hits zaman sekarang yang punya tingkat kepedasan, disini  ada beberapa tingkat kepedasan yang bisa disesuaikan dengan keadaan perut dan hati #eaak. Topping atau isian yang disediakan juga cukup variatif dengan range harga 4k – 7k per item.

Untuk percobaan perdana saya pilih 5 topping yaitu kwetiaw, macaroni, tahu crispy, batagor dan siomay kering dengan kuah level 3 yang cukup membuat saya bercucuran keringet *maklum ketahanan pedasnya masih level cupu*.

Surprisingly, seblaknya enak !!!!! kuah rempah-nya nendang banget, pedasnya gak bikin emosi dan aroma jeruknya bikin seger.

Love at first trial … karena masih lapar dan saat itu hujannya belum berhenti alhasil saya pesen lagi 1 porsi dengan topping mie, macaroni, siomay kering, batagor dan ceker hahhahaha *laper apa doyan masnya??*

Warung seblak jebred ini belum ada setahun tapi sudah punya beberapa cabang diantaranya di Dago, Kopo dan Cimahi. Kalo ada yang nanya lokasi tepatnya dimana sila tanya ke mbah google hehehhe.

Buat saya seblak jebred ini bisa jadi alternatif buat cemal-cemil mengenyangkan selain itu juga tempatnya cukup nyaman untuk sekedar haha-hihi sama teman ataupun keluarga.

Overall, Worth to try ………. and sure will be back soon

Seblak Jebred
JL. Buah Batu no 163 Bandung
Samping J-co dan Domino Pizza