Menilik masa kejayaan cireng cipaganti

Cireng atau aci digoreng, makanan ini mungkin sudah tidak asing lagi untuk sebagian orang khususnya orang bandung. Makanan yang terbuat dari aci (tepung kanji) ini memang sangat digemari oleh banyak orang tak hanya orang dewasa, anak-anak pun gemar dengan makanan khas kota kembang ini. Di kota bandung khususnya, penjual cireng tidaklah sulit ditemui. Hampir disetiap jalan terdapat penjual cireng yang siap menawarkan kelezatan cireng isi.

Berjalan menyusurusi jalan cipaganti, kita akan menemukan sebuah gerobak penjual cireng isi yang cukup legendaris. Cireng Cipaganti, begitulah kira-kira nama yang disematkan pada  cireng yang dijual di kawasan cipaganti ini. Berada di sebelah  kantor pos jalan cipaganti atau tepatnya di Jalan cemara (persis di depan pom bensin cipaganti), cireng ini menurut saya  adalah salah satu cireng paling enak yang pernah saya cicipi dan  highly recommended. Cireng ini sudah cukup dikenal dikalangan masyarakat kota bandung karena cireng ini menjadi pioneer bagi perkembangan cireng isi di kota Bandung.

Cireng Cipaganti ini terkenal dengan cireng isi sambel kacangnya. Sekilas tak nampak perbedaan dengan cireng lain namun yang membedakan cireng ini dengan cireng pada umumnya adalah cireng ini cukup renyah ketika dimakan (seperti kerupuk). Paduan renyahnya cireng dan sambel kacang yang diisikan kedalamnya membuat cireng ini tidak cukup dinikmati satu saja. Tekstur cirengnya agak keras namun renyah sehingga sensasi kriuk-kriuk-nya seperti sedang menikmati kerupuk aci. Bila dibandingkan dengan cireng lain tentu saja cireng cipaganti memiliki tingkat kerenyahan paling tinggi dibandingkan dengan cireng lain yang tekstur pada umumnya lebih alot.

Selain renyahnya cireng, tentu saja yang membuat cireng ini digandrungi banyak orang adalah sambel kacang sebagai isiannya. Sambel kacang ini merupakan kacang tanah yang dihaluskan sampai lembut dan kemudian ditambahi bumbu-bumbu rahasia yang membuat sambel kacang untuk isiian cireng ini nendang banget!!. Cireng isi kacang merupakan cireng khas dari cireng cipaganti ini walaupun ada juga cireng dengan isi yang lain seperti kornet, abon, keju dan sosis namun proses pembuatan cireng isi kacang lah yang khas dibandingkan dengan cireng isi yang lainnya. Jika cireng isi lain telah diisi dengan bahan-bahan pengisi dan tinggal langsung digoreng, berbeda untuk cireng isi kacang yang proses awalnya adalah cireng mentah digoreng hingga kering kemudian setelah digoreng ditiriskan lalu cireng yang telah digoreng ini dibelah dan kemudian diisikan sambel kacang. Menikmati cireng renyah dengan sambel kacang sebagai isiannya selagi hangat akan membuat lidah ketagihan sehingga tidak cukup satu untuk memanjakan lidah dengan cireng isi cipaganti ini. Harga  untuk cireng renyah dengan rasa yang nikmat ini tidaklah mahal, hanya dengan 1000 rupiah kita sudah bisa menikmati satu buah cireng isi khas Cipaganti.

Selain cireng disini juga terdapat panganan lain yang juga terbuat dari aci (tepung kanji) yakni cilok. Cilok merupakan makanan khas kota bandung yang terbuat dari tepung kanji yang dibentuk (biasanya) bulat kemudian dikukus. Cilok ini merupakan singkatan dari aci dicolok (ditusuk) penamaan ini dilatarbelakangi oleh kebiasaan orang-orang yang memakan panganan ini dengan cara ditusuk (walaupun tidak harus selalu ditusuk).  Cilok cipaganti ini benar-benar kenyal karena cilok ini terbuat dari 100% tepung kanji tanpa campuran terigu. Cilok ini biasanya disajikan dengan dilumuri oleh sambal kacang yang bisa ditambahkan dengan kecap untuk menjadikan rasanya gurih ataupun ditambahkan dengan sambal cabe rawit untuk penyuka rasa pedas. Harga untuk satu buah cilok cipaganti ini hanya 700 rupiah saja.

Berbicara mengenai sejarah cireng cipaganti ini, saya berkesempatan berbincang langsung dengan pemilik usaha cireng ini karena ketika saya menyambangi tempat ini kebetulan pemiliknya sedang berada ditempat.  Ibu Iyan seorang wanita paruh baya yang sehari-harinya bekerja sebagai pengajar menuturkan bahwa usahanya sudah dirintis sejak tahun 90an, awalnya beliau hanya menitipkan cireng buatannya di warung-warung sekitar rumahnya. Setelah beberapa tahun berlalu kemudian ia mencoba untuk membuka lapak di jalan cipaganti tepatnya di sebelah Rumah Makan Ayam Goreng Suharti, lambat laun cireng ibu Iyan ini mulai dikenal dan dari sinilah muncul nama cireng cipaganti. Semakin hari, cireng ini mulai dikenal bukan saja oleh masyarakat bandung tapi juga oleh para pelancong-pelancong dari luar kota Bandung seperti dari Jakarta, Bekasi, Bogor bahkan Yogyakarta. Tak heran, hampir setiap hari cireng cipaganti ini selalu diserbu oleh para pembeli sampai-sampai untuk melayani pembeli, ibu Iyan harus memberikan nomor antrian kepada setiap pembeli yang datang. Beliau juga mengatakan bahwa setiap hari tidak kurang dari 4000-5000 buah cireng diproduksi dan bisa bertambah ketika akhir pekan datang karena biasanya banyak pelancong-pelancong yang datang membeli dalam jumlah yang besar karena makanan ini bisa dijadikan oleh-oleh dari Bandung. Namun sayang, beberapa tahun kemudian tepatnya tahun 2006 lapak ibu Iyan terpaksa dipindahkan karena dikhawatirkan akan mengganggu arus lau lintas di jalan cipaganti. Sejak saat itu lapak ibu Iyan dipindahkan ke kantor pos cipaganti, saat itu cireng Ibu Iyan masih cukup laris walaupun ada penurunan jumlah konsumen namun kemudian di tahun berikutnya lapak ibu Iyan kembali harus berpindah yakni ke sebelah luar kantor pos tepatnya di jalan Cemara (tempat berjualan hingga saat ini). Semenjak saat itu lambat laun jumlah konsumen makin menurun karena banyak pelanggan cireng cipaganti yang tidak mengetahui lokasi kepindahan cireng cipaganti ini dan juga banyak pelanggan yang ragu bahwa cireng yang ada di jalan cemara (lapak sekarang) itu adalah cireng cipaganti yang asli. Selain itu ditambahkan ibu Iyan sekarang banyak juga bermunculan cireng isi dengan jenis isi yang lebih variatif membuat persaingan cireng isi ini menjadi semakin ketat. Beliau bercerita bahwa untuk saat ini produksi cireng isinya tidak terlalu banyak seperti dulu, dituturkanya rata-rata produksi cireng isinya perhari hanya 300-400 buah cireng dan 500 buah cireng untuk akhir pekan.   Beliau berharap masa kejayaan cireng cipaganti pada tahun 2004-2006 bisa kembali terulang.

Semangat bu, roda kehidupan itu pasti akan terus berputar !!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s