Melirik Situs Megalithikum Gunung Padang

Sebenernya trip ini sudah hampir tiga minggu yang yang lalu tepatnya tanggal 5 juni 2010, tapi berhubung saya sibuk (halaah sok sibuk lebih tepatnya) saya baru bisa menulis trip reportnya sekarang. Awalnya saya diajak Teh Ulu dari mahanagari untuk ikutan trip ini bersama teman-teman mahanagari lainnya, karena memang saya belum pernah kesana maka tawaran itupun tidak saya tolak. Berangkat dari stasiun Ciroyom, kami berangkat menuju Cianjur dengan menggunakan kereta api Argo Peuyeum. Tepat pukul 8.15 kereta melaju bergerak meninggalkan stasiun Ciroyom. Perjalanan saya ke Cianjur dengan kereta Argo Peuyeum yang kedua kalinya ini memang terasa sangat special karena selain saya berangkat bersama teman-teman baru, dalam rombonganpun turut serta Pak T Bachtiar seorang ahli sejarah Bandung (Penulis Buku Bandung Purba) yang tak henti-hentinya menceritakan daerah-daerah eksotis yang kami lalui sepanjang perjalanan mulai dari Danau Bandung, Karst Citatah yang sekarang kondisinya sudah sangat memprihatinkan akibat eksploitasi manusia yang berlebihan, Lembah cimeta yang ternyata dulunya merupakan Sungai Citarum Purba dan tentunya sungai Citarum kini yang terbentuk dari proses penyumbatan Sungai Citarum Purba. Sepanjang jalur Ciroyom-Cianjur atau lebih tepatnya selepas Tagog Apu menuju Cianjur perjalanan akan disuguhkan dengan pemandangan tatar priangan yang eksotis nan  hijau yang menyejukan pikiran dari hiruk pikuk rutinitas di kota besar. Selain pemandangan alam priangan yang menakjubkan, pertunjukan social kehidupan dalam kereta yang terkesan “serba ada” juga akan menemani perjalanan kita selama kurang lebih dua jam. Dua jam perjalanan tak terasa kami telah sampai di Cianjur, selepas turun dari kereta kami berkumpul sebentar untuk sekedar briefing dan tentunya foto-foto hehheheh…beberapa menit kemudian kami langsung menaiki Elf (yang sudah dipesan jauh-jauh hari tentunya) menuju situs megalitik Gunung Padang. Mobil berjalan ke arah barat daya kota cianjur searah menuju kota Sukabumi, disepanjang perjalanan Pa Bachtiar nggak berhenti bercerita dan bercanda tentunya !!

Lembah cimeta viewed from Argo Peuyeum

Selepas jalan raya Cianjur-Sukabumi kami memasuki jalan perkampungan yang cukup membuat badan saya pegal hehehe tapi pemandangan yang disajikan cukup untuk membuat mata saya terus melek dari mulai pemandangan penduduknya, sawah yang sedang hijau-hijaunya, ladang perkebunan dan juga kebun teh yang terhampar luas di areal wilayah Gunung Padang. Oh iya.. dalam perjalanan ini juga kami melewati stasiun lampegan, sebenernya sudah lama sekali saya ingin mengunjungi stasiun ini namun kerena robohnya terowongan lampegan sejak dua tahun yang lalu trayek kereta Argo Peuyeum hanya sampai Cianjur saja (tadinya sampai stasiun Lampegan lho). Semakin dekat dengan  lokasi situs kondisi jalan aspalnya emakin memble (Ayoo donk Pemda, jangan cuman Mal aja yang dibagun tapi infrastruktur untuk tempat-tempat wisata seperti ini juga harus dibangun !!!! ) dan berhasil dengan baik membuat ban elf yang kami tumpangi bocor. Untung saja lokasi bocornya ban elf kami beberapa meter tidak jauh dari tempat yang kami tuju.

Setelah menggeliat-geliatkan badan kami berkumpul sebentar untuk izin kepada “kuncen” situs, lalu kamipun mulai berjalan menuju situs Gunung Padang. Untuk mencapai lokasi megalitikum ini kita harus melewati tidak kurang dari 380 buah tangga dengan kemiringan yang cukup curaaaaaaaaaaaaammm sekitar 45-50 derajat. Sebaiknya sebelum menanjaki tangga-tangga ini lebih baik untuk melakukan stretching terlebih dahulu (ya mana saya tahu tahu tangganya bakal se nista ini hehehhe). Tangga demi tanggapun berhasil saya lewati dan Subhanalloh… ketika sampai diatas bukit pemandangan yang menakjubkan terhampar di depan mata.

melewati ratusan anak tangga

ini tumpukan batu

Berbicara mengenai situs megalitikum Gunung Padang, situs ini disinyalir para arkeolog sebagai situs terbesar di Asia Tenggara. Menurut kuncen, situs ini pertama kali dilaporkan oleh seorang Arkeolog belanda N.J Kroom pada tahun 1949 yang kemudian pada tahun 1979 situs ini resmi ditetapkan sebagai cagar budaya yang memperlihatkan peradaban bangsa Indonesia khususnya peradaban nenek moyang penduduk tatar Sunda. Situs Gunung Padang (Padang berarti tegal, lapangan)merupakan sebuah bangunan punden berundak yang terdiri dari lima undakan. Kalo kata Pa Bachtiar undakan pertama ini berfungsi sebagai tempat gerbang awal untuk menuju undakan-undakan berikutnya. Pada undakan pertama ini akan dijumpai sebuah ruangan dimana batuan pentagonal tersusun rapi menyerupai suatu ruang untuk memainkan musik, oleh sebab itu di undakan pertama ini dikenal juga sebagai teater seni musik (nope, jangan membayangkan teater musik modern dengan panggung dan alat musik yang canggih) musik-musik yang dimainkan merupakan musik yang mengiringi ritual penyembahan terhadap Yang Maha Kuasa. Dari undak satu ke undak dua kita harus menaiki tumpukan batu yang cukup tinggi, namun dari undak kedua samapi dengan kelima rutenya cukup landai. Saya berasumsi bahwa undakan pertama merupakan tahap paling menentukan “si manusia purba” itu dapat melanjutkan ke tahap-tahap berikutnya. Menurut informasi dari teman saya, lima tahapan tersebut bisa didefinisikan sebagai Tahap Kasenian, Kadunyaan, Katapakan, Kadugalan, dan Kangkatan. Oiya, menurut informasi lain secara geologis batuan yang terdapat di situs ini merupakan hasil pembekuan magma yang keluar dari letusan gunung api purba. Jadi batuan-batuan yang tersusun rapih ini terbentuk dari aliran magma yang mengering. Wallahu a’lam..

Setelah hampir 5 jam “kuliah” lapangan di situs Gunung Padang, kami memutuskan untuk turun. Walaupun jalan yang dilalui cukup bersahabat *beda track dengan jalan naik* namun tetap saja turunan ini membuat kaki saya gemetar lemas. Setelah sampai di rumah kuncen, saya tak lantas meregangkan kaki namun langsung mengambil air wudhu dan solat dan berakibatlah pegal yang luar biasa di kaki saya (sampai 2 hari lho). Setelah semua selesai solat kami lalu menaiki elf dan bergegas pulang, awalnya kami ingin singgah terlebih dahulu di stasiun dan terowongan Lampegan, hanya saja waktu sudah menunjukan jam 4 sore dan perut kamipun sudah minta diisi lagi. Sampai di pusat kota Cianjur kami mengisi perut terlebih dahulu ada yang makan bakso dan ada juga yang makan sate, kebetulan tempatnya berdampingan. Entah karena kemasukan roh nenek moyang atau karena emang lapar Saya, Kang Fajar, Mel dan Ijah makan bakso sampai 2 kali nambah (baksonya enaaaaak pisan). Tak cukup 2 porsi bakso kami lalu memesan 1 porsi lagi untuk mengakhiri penderitaan perut kami (emang dasar doyan makan ajah :P). Setelah mengisi perut kamipun langsung tancap menuju Bandung dengan menggunakan bus. Di dalam bus saya kebetulan satu kursi sama Kang Ben Wirawan, tadinya saya mau menggunakan waktu pulang ini untuk istirahat namun sepanjang jalan saya malah asyik ngobrol dengan akang hebat yang satu ini, banyak pelajaran dan ilmu yang saya dapet selama kurang lebih 2 jam antara Cianjur-Bandung (moga2 bisa ngobrol banyak di lain kesempatan  ya bos !!). kebersamaan kamipun berhenti sampai terminal Leuwi Panjang, disini kami berpisah menuju kediaman masing-masing.

Terimakasih kepada Allah The Greatest Creator Ever, Partner in Crime Pa Bachtiar, Teh Ulu, Kang Ben, Sam si anak ajaib, Kang Gele, Kang Fajar, Upi, Mel, Ijah, Teh Fita, Teh Ayu, Teh Tessi, Temennya Teh Tessi (lupa namanya heheh),Teh Yanstri, Gelar dan Denny

Foto-foto ada di mari

About these ads

6 responses to “Melirik Situs Megalithikum Gunung Padang

  1. wow keren euy!
    hehehe ayo hadi kita jalan2 lagi! :D

  2. Wow, baru tau info ini.
    Saya penyuka jalan-jalan, jalan kaki. Ada nomor cp-nya Pak Bachtiar?
    Saya tertarik ke sana. Sekiranya berkenan bisa tolong berbalas dan bertukar info ke ipungsh@gmail.com
    Terimakasih.

  3. menurut penelitian mdern sekarang bahwa batu batu itu bukan pembekuan magma yang keluar dari gn padang itu sendiri tetapi sengaja di buat dan di susun lagi pula hasil riset sekarangmah sit.gn padangnya bukan gnunung api tetapi adalah sebuah bangunan berbentuk piramid oleh karna itu bila masih ada ilmuwan sekarang yang masih mengatakan gn padang adalah sebuah gn api itu ilmuwan ketinggalan jaman kurang mengenal iptek yang hanya bisa ngumbar teori lihat tuh tim katro yang menggunakan alat alat canggih makanya ketahuan sebenarnya apa gn padang itu tida hanya teori melulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s