Cerita di 3078 mdpl

Mendung di Ciremai

Mendung di Ciremai

Alhamdulilah, akhirnya saya berhasil juga menginjakan kaki di puncak tertinggi Jawa Barat. Perjalanan menuju Gunung Ceremai ini sebenarnya cukup mendadak karena saya baru diajak Amri seminggu sebelum pendakian. Namun, karena memang sudah lama saya ingin mendaki Gunung yang katanya mistis ini, saya manut aja dan langsung meng-iya-kan tawaran Amri buat nanjak.

Hari jumat (051110) saya berangkat dari Bandung bareng temen sekampus saya si Ghilman menuju Kuningan. untunglah kami datang ke terminal tepat waktu, tepat saat bis terakhir hampir berangkat. Bis berangkat jam 3 sore  dan sampai di Kuningan jam setengah 9 malam. Setelah makan malam dan membeli beberapa logistik, kami beristirahat di tempat Kang Ahmad (teman yang bakal nganter kita muncak) sambil nunggu Amri dan Ipunk dari Jakarta.

Pagi hari, setelah Amri dan Ipunk nyampe rumah kang Ahmad, lantas kita repacking dan sarapan sebelum menuju desa Cisantana, desa terakhir sebelum memulai pendakian. Kami sengaja mengambil jalur Palutungan karena jalur Linggarjati masih ditutup akibat pendaki yang tewas selain itu jalur palutungan juga memiliki track yang cukup ‘manusiawi’ dibandingkan jalur Linggarjati.

Setelah sarapan, kami memulai pendakian sekitar pukul 09.00. Track pertama antara Palutungan-Cigowong  kami melewati hutan pinus, semak ilalang dan kemudian mulai memasuki hutan tropis. Palutungan-Cigowong bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Sesampainya di pos Cigowong kami mengisi air untuk persediaan di atas. Pos Cigowong merupakan satu-satunya sumber air di jalur ini. Berangkat dari Pos Cigowong awan hitam mulai turun dan suara petir mulai terdengar tapi kita tetap melanjutkan perjalanan. sempet istirahat sebentar di pos Kuta lalu lanjut lagi menuju pos Pangguyangan Badak. Di tengah jalan rintik hujan mulai turun namun kami tetep melanjutkan pendakian menuju Pos Arban. Sesampainya di Pos Arban kami beristirahat sebentar dan mengisi energi karena setelah ini kami akan menuju track yang cukup menguras energi.  Sekilas tentang Pos Arban, pos ini menurut saya cukup membuat bulu kuduk merinding karena pos ini dikelilingi pohon-pohon penuh lumut sehingga suasanan di pos ini sangat lembab dan nuansa mistis pun semakin bertambah dengan sebuah papan peringatan bertuliskan “Jangan Bicara Sembarangan Disini”. Tak berlama-lama disini, setelah mengisi energi kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya yaitu Pos Tanjakan Asoy sambil ditemani dengan rintik hujan. Tanjakan Asoy ini bukanlah tanjakan yang mengerikan seperti tanjakan setan di Gunung Gede, tapi karena tracknya cukup panjang sehingga amat sangat menguras tenaga, sesampainya di Pos Tanjakan Asoy hujan bertambah deras, karena semakin dingin kami melanjutkan pendakian menuju Pos Pesanggrahan. Dari Pos Tanjakan Asoy sampai dengan Pesanggrahan sangat menu menguras energi dan kami pun memutuskan untuk makan siang di Pos Pesanggrahan sembari menunggu hujan reda. Namun sayang, hujan tak kunjung reda malah, semakin deras dan petir semakain menggelegar. Akhirnya kami pustuskan untuk bermalam pos ini dan menuju puncak besok subuh dari pos ini.

Sumber air di Pos Cigowong

Sumber air di Pos Cigowong

Me-recharge energi yang terkuras di Pos Tanjakan Asoy

Me-recharge energi yang terkuras di Pos Tanjakan Asoy

Pos Pesanggrahan

Pos Pesanggrahan

Jam 03.00 kami bangun dan siap-siap summit attack, udara dingin yang menusuk tulang tidak kami hiraukan, karena keinginan untuk mencapai puncak lebih besar daripada memanjakan tubuh dengan sleeping bag. Waktu tempuh dari Pos Pesanggrahan ke Puncak sekitar 3 jam, jadi diperkirakan pukul 6 kami sudah berada di puncak. Kami terus menembus malam sekerat demi sekerat kami menaiki gunung tertinggi di Jawa Barat ini. Fajar mulai tampak, namun pagi itu kami tidak menemukan tanda-tanda sinar matahari. Pagi itu Gunung Ciremai diselimuti awan mendung. Jam setengah 6 kami tiba di Pos terakhir yaitu Goa Walet, istirahat sebentar kemudian kami lanjutkan perjalanan menuju puncak yang hanya tinggal beberapa menit saja. Akhirnya jam 6 kurang kami sudah sampai di puncak Ciremai dengan disambut mendung. Setelah solat subuh lalu kami mengabadikan beberapa moment. Sayang memang, pemandangan sunrise terbaik di puncak ini belum bisa kami saksikan saat ini karena kabut cukup tebal  sehingga menghalangi pemandangan Kota Kuningan. Tapi saya pasti kembali lagi ke sini untuk melihat pemandangan terbaik Gunung Ciremai. Hujan pun turun di puncak dan kami segera bergegas meninggalkan puncak menuju pos Pesanggrahan tempat kami bermalam. Tak lebih dari satu jam kami sampai di camp bermalam kami, kemudian kami mengisi energi dan dilanjutkan dengan packing untuk turun.

 

Pos pendakian terakhir di Goa Walet

Pos pendakian terakhir di Goa Walet

 

Yang muda yang bergaya

Yang muda yang bergaya

Kawah Ciremai

Kawah Ciremai

Pukul 3 sore kami sudah berada di desa Cisantana, dan jam 4 kami berpisah di terminal Kuningan, Saya dan Ghilman melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung sedangkan Amri dan Ipunk melanjutkan perjalanan pulang menuju Jakarta.

5 responses to “Cerita di 3078 mdpl

  1. Ceritanya ada yang lupa bawa sarung gituuuu

  2. ke ciremai baiknya bulan kapan?

  3. Hai, Salam Kenal
    sekedar membagi Informasi tentang penyewaan tenda dan alat-alat camping, pembuatan dan penjualan tenda,
    Berkemah, Camping, kemping, Even, Wisata Alam, Mabim, Outbound Training, Tenda Dome, Tenda Sarnafil atau Tenda Kerucut;
    silakan hubungi kami di http://www.tendaku.net atau http://www.mrcamp.net
    email : tendakubandung@yahoo.com
    thx..

  4. Nice post kang…………..
    Kebetulan sAyA mAu ndaki Ciremai……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s