Perjalanan Menaklukan Dewi Anjani (3726 mdpl)

Perjalanan menuju Puncak Rinjani ini memang sudah saya rencanakan sejak jauh hari. Lokasi yang lumayan jauh dan waktu perjalanan yang cukup lama membuat saya dan tim pendakian benar-benar mempersiapkannya secara matang.
Tim pendakian yang kemudian diberi nama Kepiting Rinjani dibagi menjadi 4 kelompok terbang, kloter 1 (Ayu, Ambar dan Andre) berangkat dengan cara “ngeteng” menuju Bali pada hari Senin 090511, sedangkan kloter 2 (Amri, mas Joedy dan Andri) berangkat keesokan harinya dengan menggunakan pesawat terbang menuju Bali, kloter 3 (saya dan ika) juga menggunakan peswat menuju Bali namun pada hari kamis, dan kloter 4 Mas Peggy menggunakan penerbangan langsung menuju Mataran pada hari Jumat.

Perjalanan dimulai dari Bali dengan menumpangi bus Safari Dharma menuju Mataram dengan harapan terbebas dari hadangan calo-calo di Padangbai dan pelabuhan Lembar. Sesampainnya di Mataram kami mempersiapkan perlengkapan pendakian dan istirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga sebelum menuju Desa Sembalun. Bebas calo di Pelabuhan Lembar belum tentu bebas di terminal Mandalika, Yap..akhirnya kami berhadapan juga dengan calo-calo di Mandalika pada saat hendak menaiki Engkel (Elf) dan setelah bernegosiasi dengan beberapa calo akhirnya disepakati harga Engkel untuk mengantar kami sampai Desa Sembalun.

Empat jam perjalanan, kami akhirnya sampai di Pos Pendaftaran Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Desa Sembalun. Setelah mendaftarkan diri di pos, kami beristirahat sejenak dan langsung menuju desa Bawah Nau sebagai titik awal pendakian. sebenarnya desa ini bukan merupakan jalur resmi pendakian, namun porter kami meyarankan untuk memulai pendakian dari desa ini karena selaian memang porter kami orang desa Bawah Nau, berangkat dari desa ini dapat memangkas waktu perjalanan sekitar 2 jam.

keesokan harinya setelah solat subuh, kami memulai perjalanan menuju Plawangan sembalun. Untuk menuju Plawangan Sembalun diperlukan waktu normal sekitar 8-9 jam dan melewati sebanyak 3 pos/ shelter peristirahatan. di sepanjang jalan sampai dengan pos 3 kita akan dimanjakan dengan hamparan luas savana/padang rumput yang sesekali dipayungi oleh pohon cemara. Padang rumput ini mengingatkan saya pada Bukit Teletubies yang ada di Gunung Semeru. Namun, jika terlambat memulai pendakian maka padang rumput yang indah ini akan menguras banyak tenaga kita selain itu karena jalurnya yang cukup panjang tak sedikit yang mneyebut savana ini dengan sebutan bukit penyiksaan atau bukit penderitaan walaupun jalurnya relatif datar. Selepas pos 3 jalur menuju Plawangan Sembalun didominasi oleh tanjakan dan sedikit sekali jalur landai (bonus) hanya sesekali dan itupun dengan jarak yang cukup pendek. dari pos 3 menuju Plawangan Sembalun bukit didominasi oleh pohon cemara dan perdu dan mendekati Plawangan Sembalun mulailah bermunculan pohon-pohon edelweis dengan bunga yang sedang bermekaran BAGUUUUSS BANGEEETT !!!

bukit penderitaan

Bukit Penderitaan

Perjalanan menuju Plawangan Sembalun ternyata cukup menguras tenaga kami, sehingga summit attack yang kami rencanakan pada dini hari tertunda menjadi dini hari keesokan harinya. Dalam masa recovery tenaga kami hanya melakukan kegiatan-kegiatan ringan, tidur, ataupun sekedar menikmati pemandangan danau segara anakan yang luar biasa dari Plawangan Sembalun.

Malam itu, pukul 23.00 kami bangun dan mempersiapkan diri untuk melakukan summit attack, kami sengaja berangkat lebih awal dengan estimasi waktu normal menuju puncak sekitar 5 jam ditambah waktu istirahat setengah jam. setelah mengisi perut dengan makanan penambah tenaga, pukul 00.30 kami mulai pendakian menuju puncak. Jalur antara Plawangan Sembalun sampai dengan puncak didominasi oleh pasir, Jalur pasir ini mengingatkan saya kembali akan Jalur Pasir Arcopodo-Puncak di Gunung Semeru. Namun pasir di Rinjani ini strukturnya relatif lebih kasar sehingga lebih mudah untuk dipijak. Namun saat melewati jalur pasir ini, hendaknya berhati-hati dan selalu berkonsetrasi karena angin yang berhembus di jalur ini cukup kencang ditambah lebar jalur yang sempit dengan jurang menganga di sebelah kiri dan kanan yang cukup membahayakan nyawa. 5 jam menuju puncak bukan hanya bertarung dengan tenaga, namun juga berjuang melawan mental yang semakin menurun. Pukul setengah 6 Alhamdulillah kami berhasil mencapai puncak Rinjani, perasaan gembira dan bangga tentunya mengelayuti hati kami. Semua lelah selama 5 jam perjalanan menuju puncak tiba-tiba lenyap dengan sendirinya. Tak lupa bersyukur kepada Sang Khalik yang telah memberikan kenikmatan yang luar biasa.

Perfect Sunrise at The Top

Perfect Sunrise at The Top

Kepiting Rinjani

Kepiting Rinjani

Selesai menikmati keindahan Rinjani, kami kemudian bergegas meninggalkan puncak (suatu hari saya pasti kembali lagi) menuju camp kami di Plawangan Sembalun. Siang itu jadwal kami menuju Danau Segara Anakan mengalami keterlambatan, akhirnya saya dan Amri bergegas menuju Segara Anakan untuk mempersiapkan tenda dan makanan untuk tim yang tiba belakangan. Pukul 20.00 tim tiba dengan selamat walaupun ada sedikit insiden kecil.

Danau Segara Anakan ini merupakan danau yang cukup terkenal di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Danau ini memiliki luas sekitar 1100 ha dan di  ujung Danau ini terdapat Gunung Barujari yang merupakan Anak dari Gunung Rinjani. Gunung Barujari ini merupakan gunung yang aktif . Danau Segara Anak ini juga pada waktu-waktu terntentu sering dipadati umat hindu yang melakukan upacara disini. Walupun sumber air melimpah di danau ini, namun air disini tidak dapat diminum. Untuk memenuhi kebutuhan air minum, terdapat sumber mata air yang berjarak kurang lebih 500 km dari danau. Di areal danau juga terdapat sumber air panas yang dapat digunakan untuk mandi atau sekedar berendam menghilangkan rasa capek. Gunung Rinjani menurut saya menurapakn gunung yang komplit dengan view yang luar biasa. Selain Savana, Danau, Sumber Air Panas, dan Air Terjun disini juga terdapat gua yang bernama Goa Susu. Goa ini dinamai goa susu karena di bagian dalam goa ini berwarna putih seperti susu. Stalagnit-stalagnit di goa ini meneteskan air panas di dalam goa sehingga uap air panas keluar di mulut goa. Disini kita juga bisa merasakan sauna alami khas Gunung Rinjani. Setelah 3 malam kami menghabiskan waktu di Segara anakan ini, keesokan harinya kami bergegas melakukakn perjalanan turun via Plawangan Senaru.

Segara Anak's View

Segara Anak's View

Gunung Barujari

Gunung Barujari

Goa Susu

Goa Susu

Air Terjun dekat Sumber Air Panas

Air Terjun dekat Sumber Air Panas

Rinjani's View from Plawangan Senaru

Rinjani's View from Plawangan Senaru

Setelah sarapan pagi, jam setengah 8 kami memulai perjalanan. Medan menuju Plawangan Senaru merupakan hutan terbuka dan didominasi oleh jalur yang berbatu. Di titik ini juga para pendaki harus sangat berhati-hati karena jalur yang cukup terjal dan minim pengaman dapat membahayakan nyawa. 4 jam perjalanan akhirnya kami tiba di Plawangan Senaru dan beristirahat untuk mengisi tenaga. Setelah mendapatkan energi kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3, dianatara Plawangan senaru sampai dengan Pos 3 jalur yang dilewati cukup landai dan didominasi oleh padang edelweis dan tumbuhan cemara. dua jam perjalanan kami akhirnya tiba di Pos 3, Pos 3 ini merupakan shelter peristirahatan yang terdiri dari tiga buah Gazebo untuk beristirahatnya pendaki. Selepas dari pos 3 kita memasuki hutan tertutup dengan jalur yang terus menurun. Dari Pos 3 diperlukan waktu sekitar 2 jam menuju pos 2. setelah beberapa saat beristirahat, kami lanjutkan perjalanan menuju pos 1 di pertengahan jalan tepatnya saat magrib tiba, kami hentikan terlebih dahulu perjalanan dan kami gunakan waktunya untuk beristirahat. Waktu yang diperlukan untuk menuju pos 1 dari pos 2 adalah sekitar 2 jam, dipertengahan antara pos 1 dan pos 2 terdapat satu pos bayangan yang terdiri dari sebuah Gazebo yang biasanya digunakan untuk bermalam, saat itu kami berniat untuk langsung turun tanpa bermalam di jalan. Setibanya di Pos 1 kami hanya istirahat sebentar dan langsung melanjutkan perjalanan, dari pos 1 ini kami menuju pos Jbag Gawah (pintu hutan) selama 1,5 jam. Alhamdulillah sekitar pukul 9 kami tiba di Pos Jbag Gawah dan beristirahat di warung satu-satunya di pos itu. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan sekitar 30 menit menuju Pos Pendaftaran Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Desa Senaru dan bermalam disana.

Thank’s to Allah Yang Maha Kuasa, Partner In Crime Amri, Ambar, Ika, Ayu, Mas Joedy, Andri, Andre dan Mas Peggy, juga porter in crime Mas Anto, Mas Angga di mataram dan Gilang. Terimakasih atas cerita dan cinta🙂

foto-foto selangkapnya disini

10 responses to “Perjalanan Menaklukan Dewi Anjani (3726 mdpl)

  1. widiih.. senang berkenalan dengan anda, *halaaaah*…

    Oke jeng boy, itu salah satu trip dengan tim ter-oke yang pernah gw ikutin.. Lanjooot

  2. Curang, dia sempet nulis… sedangkan gw? hahahaa

    Salah satu trip terpanjang gw nih, mudah2an tahun depan bisa lebih lama lagi, 20 or 30 hari gitu *alamat dipecat*😀

  3. wow kereenn kang hadi, kapan-kapan kalau ngetrip ke gunung ajak2 yah…

    teruskan hobbymu *kenali negrimu jelajahi negrimu*…

    kangeeennn seblak buatan lo di..

  4. Widihh,,indah banget ye..mw tuh jd porterny.subhanallah kekusaan allah begitu indah

  5. wahhhh keren abis ,,,

    kaya enak tuh diam di situ ,,, apalagi dengan pemandangan yang indah gtu…

  6. subhanallah . . . sesuatu banget ya . . . selamat bang . . .
    kpan rencana muncak lagi???
    lestari euy . . .

  7. okai2, ditunggu cerita-cerita berikutnya. ud ke Salak bang??? ada lumpur lapindo bonus pacet, hehehe . . .
    lestari lagi euy . . .

  8. kaka .. mau tanya dong itu dari balinya ke mataram naik bis darimana ya ? saya ada rencana ke rinjani dan persis turun di bandara ngurah rai. mohon infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s