Mengunjungi Dusun Tradisional Sade

Ada banyak desa-desa tradisional di Lombok, salah satunya adalah Dusun Sade di Desa Rambitan, Lombok Tengah. Tidak sulit menemukan dusun ini karena letaknya yang mudah dijangkau. Terletak di pinggir jalan raya antara Mataram dan Praya, dusun ini juga biasa dijadikan tempat bersinggah bagi wisatawan sebelum atau mungkin sesudah berkunjung ke pantai selatan lombok.

Berangkat dengan menggunakan mobil carteran, saya, Andri, Amri dan Dajon meluncur ke arah selatan lombok. Sebenarnya hanya butuh waktu setengah jam saja untuk mencapai dusun ini namun kami singgah sebentar di Bandara Internasional Lombok (BIL) yang sedang dalam tahap akhir proses pembangunan. Bandara ini lebih luas daripada Bandara Selaparang dengan desain yang minimalis dan futuristik (seperti Bandara Hassanudin di Maksasar). Rencananya jika pembangunan bandara internasional ini tidak mengalami kendala sekitar bulan oktober bandara ini siap beroperasi dan beberapa maskapai internasional siap merapat disini guna menumbuhkan pariwisata Pulau Lombok. Dari BIL kami meluncur ke selatan dan tidak sampai 20 menit akhirnya kami tiba di dusun Sade ini. tidak ada tarif resmi untuk memasuki kawasan dusun ini, namun di depan pintu masuk tamu diwajibkan mengisi daftar kunjungan dan juga “infak” seadanya yang nantinya digunakan untuk masyarakat Sade sendiri.

Dusun ini dihuni oleh Suku Sasak, suku asli Pulau Lombok. Mata pencaharian mereka adalah bertani dan wanita di dusun ini rata-rata pandai menenun. Dengan menggunakan alat tenun tradisional, mereka membuat kerajinan tenun yang nantinya di jual kepada para wisatawan yang datang ke desa ini.

Memintal Benang untuk Menenun

Memintal Benang untuk Menenun

Rumah-rumah yang ada disini juga sangat sederhana terbuat dari kayu, bambu dan beratapkan daun alang-alang kering. Yang unik dari rumah tradisional ini adalah lantainya yang secara berkala diolesi dengan kotoran lembu tujuannya  agar terbebas dari serangan nyamuk yang mengganggu dan selain itu dipercayai juga agar terbentengi dari gangguan-gangguan yang bersifat magis.  Ada pertanyaan dari teman saya mengenai bau kotoran lembu ini dan kemudian dijawab oleh guide kami bahwa pada saat masih basah memang menimbulkan bau yang cukup menyengat namun bau itu perlahan lahan lenyap seiring mengeringnya kotoran lembu itu.

Rumah tradisional ini hanya memiliki 2 ruangan saja yaitu bagian depan dan bagian dalam. bagian depan ini diperuntukkan bagi laki-laki dan ibu. sedangkan bagian dalam diperuntukkan bagi wanita yang masih lajang. Ruangan dalam ini memiliki letak yang lebih tinggi dibandingkan dengan ruangan depan.

Sebelum meninggalkan dusun ini, ada baiknya membeli buah tangan hasil kerajinan masyarakat Dusun Sade seperti kain tenun, ukiran kayu ataupun sekedar gantungan kunci. Selain membawakan buah tangan untuk kerabat membeli cenderamata penduduk lokal juga menjadi salah satu cara kita untuk ikut meningkatkan taraf hidup masyarakat desa.

Iklan

Eksotisme Tiga Gili

Setelah hampir seminggu berada di Taman Nasional Gunung Rinjani, kemudian saatnya saya mengeksplore alam Pulau Lombok yang lainnya. Bertolak dari Desa Senaru di kaki Gunung Rinjani, kami berangkat menuju Pelabuhan Bangsal. Dua jam perjalanan dengan menggunakan engkel, akhirnya  kami tiba di Pelabuhan bangsal dan langsung membeli tiket kapal menuju Gili Trawangan seharga 10rb rupiah. Perjalanan membelah ombak menuju Gili Trawangan memakan waktu kurang lebih 40 menit.

Selesai solat jumat, kami lantas bergegas mencari spot untuk beristirahat, dan saya pun memanfaatkan waktu istirahat untuk snorkeling dan bermain air sepuasnya disini. Waktupun berjalan, setelah waktu beranjak sore kami memutuskan mencari tempat untuk mendirikan tenda. Setelah tanya sana-sini akhirnya  kami bisa mendirikan tenda di sebelah ujung barat pulau tepatnya dekat PLN Gili Trawangan.

Awalnya kami ingin mendirikan tenda, namun udara malam itu terasa cukup hangat sehingga akhirnya kami hanya beralaskan spanduk dan diterangi cahaya bulan serta kerlipan jutaan bintang di langit untuk menghabiskan malam yang cukup panjang.

Beberapa jam setelah mata terpejam, saya terbelalak menyaksikan sunrise yang sangat indah di pulau ini, dari ujung pulau terlihat matahari mulai muncul dari punggung gunung Rinjani, momen itupun tidak saya sia-siakan untuk diabadikan.

Pagi pun mulai beranjak, setelah sarapan pagi, kami lalu bergegas menuju pelabuhan. Hari ini tim kepiting rinjani berpisah, Saya, Andri, Amri dan Dajon akan melanjutkan perjalanan menuju Gili Meno dan Gili Air. Setelah berpisah kami lalu menaiki kapal menuju Gili Meno. Saya heran dengan tarif kapal disini, dari bangsal menuju Gili trawangan, meno dan air tarifnya sebsar 10rb, tapi dari gili trawangan menuju gili meno tarifnya sebesar 20 rb padahal jarak tempuhnya lebih pendek. (-____-)”

20 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di Gili Meno..yeaaayyy Get Lost in Lombok begin !!! kami menyusuri setiap jengkal pulau yang terletak diantara Gili Trawangan dan Gili Air. Gili meno ini lebih lengang daripada Gili Trawangan, cottage-cottage pun tidak terlalu bertebaran seperti di Gili Trawangan. Pulau ini tampaknya cocok buat mereka yang ingin berbulan madu dan menikmati kesunyian :).

Setelah berkeliling-keliling akhirnya kami menemukan sebuah cafe yang ternyata harganya cukup terjangkau, jadilah kami memutuskan makan siang disana.  Cafe Diana ini tempatnya sangat oke, selain viewnya langsung menghadap laut disini juga bisa bersantai di hammock sambil mendengarkan lagu khas pantai. Berlama-lama disini tak terasa waktu sudah mendekati sore, kami lalu bergegas dan langsung menuju pelabuhan. Sebenarnya setelah dari Gili Meno, kami berniat untuk menuju Gili Air. Namun sayang karena slot waktu kami molor dan sore itu juga kami ingin mengejar sunset di Senggigi akhirnya kami putuskan untuk melewatkan Gili Air (Saya harus datang kesini suatu hari nanti) dan langsung kembali menuju pelabuhan Bangsal. Perjalanan menjelajahi Trio Gili ini memang tersa kurang lengkap namun, saya berjanji bahwa saya akan kembali lagi kesini ..Yup, Someday i will be here again 🙂

Perjalanan Menuju Puncak Dewi Anjani (3726 mdpl)

Perjalanan menuju Puncak Rinjani ini memang sudah saya rencanakan sejak jauh hari. Lokasi yang lumayan jauh dan waktu perjalanan yang cukup lama membuat saya dan tim pendakian benar-benar mempersiapkannya secara matang.
Tim pendakian yang kemudian diberi nama Kepiting Rinjani dibagi menjadi 4 kelompok terbang, kloter 1 (Ayu, Ambar dan Andre) berangkat dengan cara “ngeteng” menuju Bali pada hari Senin 090511, sedangkan kloter 2 (Amri, mas Joedy dan Andri) berangkat keesokan harinya dengan menggunakan pesawat terbang menuju Bali, kloter 3 (saya dan ika) juga menggunakan peswat menuju Bali namun pada hari kamis, dan kloter 4 Mas Peggy menggunakan penerbangan langsung menuju Mataran pada hari Jumat.

Perjalanan dimulai dari Bali dengan menumpangi bus Safari Dharma menuju Mataram dengan harapan terbebas dari hadangan calo-calo di Padangbai dan pelabuhan Lembar. Sesampainnya di Mataram kami mempersiapkan perlengkapan pendakian dan istirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga sebelum menuju Desa Sembalun. Bebas calo di Pelabuhan Lembar belum tentu bebas di terminal Mandalika, Yap..akhirnya kami berhadapan juga dengan calo-calo di Mandalika pada saat hendak menaiki Engkel (Elf) dan setelah bernegosiasi dengan beberapa calo akhirnya disepakati harga Engkel untuk mengantar kami sampai Desa Sembalun.

Empat jam perjalanan, kami akhirnya sampai di Pos Pendaftaran Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Desa Sembalun. Setelah mendaftarkan diri di pos, kami beristirahat sejenak dan langsung menuju desa Bawah Nau sebagai titik awal pendakian. sebenarnya desa ini bukan merupakan jalur resmi pendakian, namun porter kami meyarankan untuk memulai pendakian dari desa ini karena selaian memang porter kami orang desa Bawah Nau, berangkat dari desa ini dapat memangkas waktu perjalanan sekitar 2 jam.

keesokan harinya setelah solat subuh, kami memulai perjalanan menuju Plawangan sembalun. Untuk menuju Plawangan Sembalun diperlukan waktu normal sekitar 8-9 jam dan melewati sebanyak 3 pos/ shelter peristirahatan. di sepanjang jalan sampai dengan pos 3 kita akan dimanjakan dengan hamparan luas savana/padang rumput yang sesekali dipayungi oleh pohon cemara. Padang rumput ini mengingatkan saya pada Bukit Teletubies yang ada di Gunung Semeru. Namun, jika terlambat memulai pendakian maka padang rumput yang indah ini akan menguras banyak tenaga kita selain itu karena jalurnya yang cukup panjang tak sedikit yang mneyebut savana ini dengan sebutan bukit penyiksaan atau bukit penderitaan walaupun jalurnya relatif datar. Selepas pos 3 jalur menuju Plawangan Sembalun didominasi oleh tanjakan dan sedikit sekali jalur landai (bonus) hanya sesekali dan itupun dengan jarak yang cukup pendek. dari pos 3 menuju Plawangan Sembalun bukit didominasi oleh pohon cemara dan perdu dan mendekati Plawangan Sembalun mulailah bermunculan pohon-pohon edelweis dengan bunga yang sedang bermekaran BAGUUUUSS BANGEEETT !!!

bukit penderitaan

Bukit Penderitaan

Perjalanan menuju Plawangan Sembalun ternyata cukup menguras tenaga kami, sehingga summit attack yang kami rencanakan pada dini hari tertunda menjadi dini hari keesokan harinya. Dalam masa recovery tenaga kami hanya melakukan kegiatan-kegiatan ringan, tidur, ataupun sekedar menikmati pemandangan danau segara anakan yang luar biasa dari Plawangan Sembalun.

Malam itu, pukul 23.00 kami bangun dan mempersiapkan diri untuk melakukan summit attack, kami sengaja berangkat lebih awal dengan estimasi waktu normal menuju puncak sekitar 5 jam ditambah waktu istirahat setengah jam. setelah mengisi perut dengan makanan penambah tenaga, pukul 00.30 kami mulai pendakian menuju puncak. Jalur antara Plawangan Sembalun sampai dengan puncak didominasi oleh pasir, Jalur pasir ini mengingatkan saya kembali akan Jalur Pasir Arcopodo-Puncak di Gunung Semeru. Namun pasir di Rinjani ini strukturnya relatif lebih kasar sehingga lebih mudah untuk dipijak. Namun saat melewati jalur pasir ini, hendaknya berhati-hati dan selalu berkonsetrasi karena angin yang berhembus di jalur ini cukup kencang ditambah lebar jalur yang sempit dengan jurang menganga di sebelah kiri dan kanan yang cukup membahayakan nyawa. 5 jam menuju puncak bukan hanya bertarung dengan tenaga, namun juga berjuang melawan mental yang semakin menurun. Pukul setengah 6 Alhamdulillah kami berhasil mencapai puncak Rinjani, perasaan gembira dan bangga tentunya mengelayuti hati kami. Semua lelah selama 5 jam perjalanan menuju puncak tiba-tiba lenyap dengan sendirinya. Tak lupa bersyukur kepada Sang Khalik yang telah memberikan kenikmatan yang luar biasa.

Perfect Sunrise at The Top

Perfect Sunrise at The Top

Kepiting Rinjani

Kepiting Rinjani

Selesai menikmati keindahan Rinjani, kami kemudian bergegas meninggalkan puncak (suatu hari saya pasti kembali lagi) menuju camp kami di Plawangan Sembalun. Siang itu jadwal kami menuju Danau Segara Anakan mengalami keterlambatan, akhirnya saya dan Amri bergegas menuju Segara Anakan untuk mempersiapkan tenda dan makanan untuk tim yang tiba belakangan. Pukul 20.00 tim tiba dengan selamat walaupun ada sedikit insiden kecil.

Danau Segara Anakan ini merupakan danau yang cukup terkenal di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Danau ini memiliki luas sekitar 1100 ha dan di  ujung Danau ini terdapat Gunung Barujari yang merupakan Anak dari Gunung Rinjani. Gunung Barujari ini merupakan gunung yang aktif . Danau Segara Anak ini juga pada waktu-waktu terntentu sering dipadati umat hindu yang melakukan upacara disini. Walupun sumber air melimpah di danau ini, namun air disini tidak dapat diminum. Untuk memenuhi kebutuhan air minum, terdapat sumber mata air yang berjarak kurang lebih 500 km dari danau. Di areal danau juga terdapat sumber air panas yang dapat digunakan untuk mandi atau sekedar berendam menghilangkan rasa capek. Gunung Rinjani menurut saya menurapakn gunung yang komplit dengan view yang luar biasa. Selain Savana, Danau, Sumber Air Panas, dan Air Terjun disini juga terdapat gua yang bernama Goa Susu. Goa ini dinamai goa susu karena di bagian dalam goa ini berwarna putih seperti susu. Stalagnit-stalagnit di goa ini meneteskan air panas di dalam goa sehingga uap air panas keluar di mulut goa. Disini kita juga bisa merasakan sauna alami khas Gunung Rinjani. Setelah 3 malam kami menghabiskan waktu di Segara anakan ini, keesokan harinya kami bergegas melakukakn perjalanan turun via Plawangan Senaru.

Air Terjun dekat Sumber Air Panas

Air Terjun dekat Sumber Air Panas

Rinjani's View from Plawangan Senaru

Rinjani’s View from Plawangan Senaru

Setelah sarapan pagi, jam setengah 8 kami memulai perjalanan. Medan menuju Plawangan Senaru merupakan hutan terbuka dan didominasi oleh jalur yang berbatu. Di titik ini juga para pendaki harus sangat berhati-hati karena jalur yang cukup terjal dan minim pengaman dapat membahayakan nyawa. 4 jam perjalanan akhirnya kami tiba di Plawangan Senaru dan beristirahat untuk mengisi tenaga. Setelah mendapatkan energi kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3, dianatara Plawangan senaru sampai dengan Pos 3 jalur yang dilewati cukup landai dan didominasi oleh padang edelweis dan tumbuhan cemara. dua jam perjalanan kami akhirnya tiba di Pos 3, Pos 3 ini merupakan shelter peristirahatan yang terdiri dari tiga buah Gazebo untuk beristirahatnya pendaki. Selepas dari pos 3 kita memasuki hutan tertutup dengan jalur yang terus menurun. Dari Pos 3 diperlukan waktu sekitar 2 jam menuju pos 2. setelah beberapa saat beristirahat, kami lanjutkan perjalanan menuju pos 1 di pertengahan jalan tepatnya saat magrib tiba, kami hentikan terlebih dahulu perjalanan dan kami gunakan waktunya untuk beristirahat. Waktu yang diperlukan untuk menuju pos 1 dari pos 2 adalah sekitar 2 jam, dipertengahan antara pos 1 dan pos 2 terdapat satu pos bayangan yang terdiri dari sebuah Gazebo yang biasanya digunakan untuk bermalam, saat itu kami berniat untuk langsung turun tanpa bermalam di jalan. Setibanya di Pos 1 kami hanya istirahat sebentar dan langsung melanjutkan perjalanan, dari pos 1 ini kami menuju pos Jbag Gawah (pintu hutan) selama 1,5 jam. Alhamdulillah sekitar pukul 9 kami tiba di Pos Jbag Gawah dan beristirahat di warung satu-satunya di pos itu. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan sekitar 30 menit menuju Pos Pendaftaran Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Desa Senaru dan bermalam disana.

Thank’s to Allah Yang Maha Kuasa, Partner In Crime Amri, Ambar, Ika, Ayu, Mas Joedy, Andri, Andre dan Mas Peggy, juga porter in crime Mas Anto, Mas Angga di mataram dan Gilang. Terimakasih atas cerita dan cinta 🙂

foto-foto selangkapnya disini

Jagatkartta Temple’s Trip

A month ago, i joined Odong-Odong Traveler’s trip to Jagatkartta Trip. Jagatkartta Temple is located in Ciapus Bogor. Me, Amri, Puteri and Puteri’s friend gathered at Tanjung Barat Trains  Station as meeting point toward Bogor. The journey was about an hour to Bogor. Our meeting point was at Bogor Stations. We went to Ciapus by using rent car but unfortunatelly the car striked in the middle of our journey, so we had to change another car. Alhamdulillah it was quite easy to find another rent car there. We finally arrived at Ciapus. Because of the damaged roads, we had to walk about 1 Km to reach the Temple. After walking for about a half hour, we finally got to the Temple.

Bogor Train Station, our meeting point

Yes, we arrived at Jagatkartta Gate 🙂

I found it on the way

There are some rules for visitor before entering the Temple such as do not enter for the menstruation women, for cuntaka (mourn), a baby who is under 42 days after born, somebody who is mentally sick. In this Temple we also can not be allowed to make a noise.

Located on the downhill, Jagatkartta Temple has a good atmosphere especially for they who is going to meditation. The air is cool and the view is so beautiful. For information, this temple is the 2nd largest temple after Besakih Temple in Bali.

here they are…………………….

Ssstt..dont make a noise, they were praying

Bogor view

Offerings to the God’s

After visiting the temple, we went to find a local culinary at Jalan Suryakencana, Bogor. Unfortunatelly my camera batteries was insufficient so i couldnt take some of picture 😦

Gastronomic Trip

Sudah hampir 3 bulan saya gak kemana-mana, dan sudah hampir 3 bulan juga lah blog saya sepi dari catatan perjalanan. Yap..Tugas Akhir dan Skripsi yang saya kebut selama 3 bulan memang telah menyita waktu saya buat nge-trip. However, paling tidak saya tidak absen untuk mencari makanan hehehhe. Selama 3 bulan ini juga saya punya hobi baru, kalau dulu saya datang ke tempat makan hanya sekedar makan, kali ini saya selalu mengabadikan kelezatan makanan lewat gambar *Thank for Susan dan Mbak Kuke who inspiring me 🙂 *

and here there are……………………………………………………………………..

Chicken Teriyaki Ramen dan Tokyo Udon

Kuma Ramen, Jl Cimanuk no 11a, Buka tiap hari 18.30-22.30 (weekend sampe 23.3Follow Twitter  @KumaRamenBDG

Maio Green Burger, Jalan Dipatiukur no 1, Buka setiap hari Follow Twitter @maioburger

Lomi, Chicken Beefy Chees, Chicken Melon Mayo, Chicken Steroganoff (dÇlemmons)

Pujasera Mambo, Jalan Imam Bonjol Bandung, buka setiap hari 10.00- 17.00

Mie Kocok Bandung, Pempek Lenggang, Es Campur

The Kiosk Ciwalk, Broadway Cihampelas Walk Bandung, buka setiap hari jam 10.00- 22.00

Chuka Chinmi, Kani Mayo, Chuka Kurage, Ebikko, Tuna Salad

Sushi Tei, Jalan Sumatera no 9 Bandung

Kopi Rempah Jahe Putih, Pisang Goreng Keju, Milkshake Oreo

Kedai Kopi Mata Angin, Jalan Bengawan no 52 Bandung, buka setiap hari Selasa-Minggu 10.00-24.00

segitu dulu aja gastronomic trip report-nya nanti disambung lagi..sluurrrpp 🙂

Last Trip on 2010, Situ Gunung !

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jalan-jalan santai ke Situ Gunung ini sebenarnya sudah berlangsung akhir Desember lalu, namun feel untuk menulis report-nya baru muncul sekarang hahahaha *maafkan saya ;P

Trip ini bermula ketika ngobrol santai di Pulau Tidung, Saya dan Amri awalnya hanya ingin berburu kuliner ke Bogor namun ternyata setelah ngobrol ngalor-ngidul akhirnya pembicaraan berujung pada satu tempat yaitu Situ Gunung di Sukabumi. Tiga hari pasca trip gratis ke Pulau Tidung, Saya, Amri,  Peggi dan Coco bertemu di Terminal Kampung Rambutan. Rencananya Gita juga akan bergabung bersama kami namun dia membatalkan keikutsertaannya di menit-menit terakhir. Setelah kami berempat bertemu, kami langsung menaikki bus jurusan Kp Rambutan-Sukabumi. Perjalanan Kampung rambutan-Cisaat ditempuh dalam waktu hampir 5 jam karena perjalanan sempat tersendat di gerbang keluar Ciawi. Akhirnya jam 5 sore kami tiba di Alun-alun Cisaat. Setelah membeli beberapa kebutuhan, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkot menuju Pos Situ Gunung. Setelah 30 menit perjalanan akhirnya kami sampai juga di Pos Situ Gunung.

Taman wisata Situ Gunung termasuk dalam kawasan cagar alam Taman Nasional Gede-Pangrango (TNGP). Berada tepat di kaki Gung Pangrango, taman wisata ini berada pada ketinggian 850 mdpl. Pada areal seluas sekitar 120 hektar ini terdapat camping ground, air terjun (curug cimanaracun dan curug sawer) dan juga terdapat danau buatan yang dilengkapi aula dan beberapa unit villa bagi mereka yang ingin menikmati keindahan Taman Wisata Situ Gunung.

Setelah mendaftarkan diri di pos penjaga, kami beristirahat sejenak untuk sekedar mengisi perut dan menonton Final League ke 2 Piala AFF. Setelah pertandingan selesai, kami lantas menuju Danau Situ Gunung (Situ = Danau –> Danau Danau Gunung, haaassh whatever lah). Berjalan sekitar 1,5 km dengan menembus kegelapan hutan TNGP, akhirnya kami sampai di danau. Pada awalnya kami berencana untuk mendirikan tenda disini, namun karena tidak mendapat izin dari petugas jaga (kemping hanya diperbolehkan di areal camping ground) akhirnya kami menggelar lapak dan beristirahat di gazebo di tepi danau.

Pagi menjelang, kami langsung menikmati pagi di Situ Gunung ini, aah..sayang sekali pagi itu cuaca sedang kurang bersahabat, mendung! padahal berdasarkan informasi yang saya dapatkan view terbaik di tempat ini adalah ketika pagi hari saat kabut turun berbarengan dengan cahaya matahari pagi. Tapi walaupun begitu, tidak mengurangi kesenangan kami untuk menikmati pagi disini. Minum teh manis hangat sambil duduk-duduk di jembatan kayu merupakan sesuatu yang luar biasa. Danau ini sekilas tampak seperti danau yang terbentuk secara alamiah namun ternyata danau ini merupakan dananu buatan yang dibangun puluhan tahun yang lalu.

Setelah menikmati keindahan danau, kami segera bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju Curug Sawer. Dari danau, kita berjalan kembali menuju pos pejaga lalu berjalan ke arah utara. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit berjalan kaki, lelahnya perjalanan menaiki dan menuruni bukit terbayar ketika melihat keindahan Curug Sawer. Sayapun tak tahan untuk menceburkan diri di aliran sungan dari Curug Sawer. Namun kesenangan itu terhenti sejenak ketika hujan turun. Setelah menunggu hujan reda, kami kembali bersenang-senang menikmati air tejun ini.

Puas bermain-main di Curug Sawer, kami langsung menuju Cisaat untuk kembali menuju Jakarta. Sesampainya di Cisaat, kami singgah dulu di Masjid Agung Cisaat untuk sekedar membersihkan diri dan hati (heheheh). Tak lupa memenuhi kewajiban untuk mengisi perut dengan masakan khas sunda yang berjejer di samping masjid agung.

Setelah makan, kami langsug menuju Jakarta dengan menggunakan bus. Perjalanan yang menyenangkan untuk menutup tahun 2010.

 

 

Menjelajahi Pulau Tidung bersama Bandar Pulau Tidung

 

Berenang bersama di areal Jembatan Cinta

Berenang bersama di areal Jembatan Cinta

Alhamdulillah, menulis ternyata bukan sekedar menyalurkan hobi namun dapat juga menjadi pintu rezeki. Setelah beberapa bulan lalu saya berhasil menjadi finalis ACIdetik.com dan juga menjadi contributing writter untuk sebuah web wisata, kali ini saya mendapat kesempatan mejelajahi Pulau Tidung tentunya dengan cuma-cuma. Adalah Bandar Pulau Tidung, sebuah operator wisata di Pulau Tidung yang memberikan kami (saya dan 3 orang blogger lainnya ; Ale, Peggi, Amri ) pelayanan maksimal selama berada di Pulau Tidung ini.

Kami berempat akhirnya sepakat bertemu di Muara Angke, namun ternyata dalam rombongan kami bertambah 3 orang yang meramaikan perjalanan kami diantaranya Inez teman Ale juga Hendro dan Yani pasangan suami-istri anggota Komunitas Pejalan Odong-Odong Traveller. Pukul 07.00 WIB kapal yang mengangkut kami mulai meninggalkan Pelabuhan Muara Angke menuju Pulau Tidung. Perjalanan yang memakan waktu 3 jam ini kami habiskan dengan bercerita, bermain sambung kata dan tidur tentunya 🙂

Pukul 10.00 WIB kami tiba di Pelabuhan Pulau Tidung dan kami langsung disambut Mas Anwar, salah satu staff Bandar Pulau Tidung dan langsung mengantarkan kami menuju penginapan. Sesampainya di penginapan, kami disambut dengan welcome drink kelapa muda yang menyegarkan. Setelah itu kami diberikan waktu bebas sampai dengan solat jumat, Sayapun menggunakan free time ini untuk berkeliling area penginapan dengan menggunakan sepeda yang telah disediakan.

Setelah selesai solat jumat, kami lalu diajak untuk bersnorkeling di pulau payung dan karang beras. Kami diberikan peralatan snorkeling dengan lengkap mulai dari life vest, google snorkel, pipa udara dan finn (kaki katak) sehingga kegiatan snorkeling kami pun terasa aman dan nyaman. Alam bawah laut pulau ini cukup memajakan mata, terumbu karang yang indah menjadi pemandangan  yang cukup menyegarkan. Pulau Tidung ini sekarang sudah cukup dikenal oleh warga Jakarta khususnya dan menjadi alternatif destinasi liburan akhir pekan selain Puncak dan Bandung.

 

Snorkeling di Pulau Karang Beras

Snorkeling di Pulau Karang Beras

Berjam-jam waktu kami habiskan bersnorkeling kamipun merapat di jembatan cinta (landmark khas Tidung) untuk menikmati panorama Sunset, namun Amri, -yang notabene pernah kesini- menyarakan kami untuk menikmati sunset di pantai paling barat Pulau Tidung, kamipun segera bergegas  menggunakan sepeda untuk mengejar kembalinya Sang Raja Siang ke peraduannya. Benar saja, pemandangan sunset di temapt ini sangat mengagumkan, apalagi saat itu cuaca memang sedang bersahabat. Pemandangan ini tentu saja tidak kami sia-siakan untuk diabadikan dalam lensa kamera.

 

Menunggu sunset di Pantai Tidung Barat

Menunggu sunset di Pantai Tidung Barat

Jump on sunset background

Jump on sunset background

Perfect sunset

Perfect sunset

Setelah matahari tenggelam, kami bergegas menuju penginapan untuk membersihkan diri setelah beharian bermandikan peluh dan air laut. Tak lama kemudian kami dipersilahkan untuk menikmati barbeque ikan di pantai sebelah timur Pulau Tidung, kamipun bergegas menuju tempat “pesta” dan kami disambut dengan kehangatan masyarakat Pulau Tidung. Ah, liburan yang menyenangkan !!!

Setelah menyantap ikan bakar dan juga bersenda gurau, kami segera kembali ke penginapan dan beristirahat memulihkan kondisi tubuh.

Keesokan harinya setelah subuh, kami langsung menuju jembatan cinta untuk menikmati sunrise namun sayang cuaca pagi itu kurang bersahabat sehingga terbitnya matahari dihalangi oleh awan yang cukup tebal. Akhirnya kamipun harus puas dengan pemandangan yang seadanya namun itu semua tidak mengurangi kesenangan kami untuk menjelajah pulau ini. Dari Jembatan Cinta kami menuju Pulau Tidung Kecil dan mengeksplore pulau berpasir putih ini.  Pulau ini sebenarnya sangat cantik namun sayang banyak sampah bawaan dari Ibukota yang mengotori pantai cantik ini.Setelah puas mengeksplore dan mengambil gambar di Pulau Tidung Kecil ini, kami segera bergegas kembali ke Jembatan Cinta dan menunggu waktu kepulangan kami dengan berenang di areal pantai yang airnya jernih ini.

 

Laskar Tidung

Laskar Tidung

Odong-Odong Travellers @ Tidung Kecil

Odong-Odong Travellers @ Tidung Kecil

My Fave Pose, Jump @ Tidung Kecil

My Fave Pose, Jump @ Tidung Kecil

Pukul 11.00 siang kami bergegas menuju pelabuhan untuk kembali ke Jakarta. Liburan yang menyenangkan dan mengesakna bersama Bandar Pulau Tidung. Terimakasih kepada Bandar Pulau Tidung yang telah memfasilitasi segala keperluan kami selama berada di Pulau Tidung

 

Last photo before leaving Tidung

Last photo before leaving Tidung

 

** CP Bandar Pulau Tidung (Rommy 0857 1616 9794)