Gastronomic Trip

Sudah hampir 3 bulan saya gak kemana-mana, dan sudah hampir 3 bulan juga lah blog saya sepi dari catatan perjalanan. Yap..Tugas Akhir dan Skripsi yang saya kebut selama 3 bulan memang telah menyita waktu saya buat nge-trip. However, paling tidak saya tidak absen untuk mencari makanan hehehhe. Selama 3 bulan ini juga saya punya hobi baru, kalau dulu saya datang ke tempat makan hanya sekedar makan, kali ini saya selalu mengabadikan kelezatan makanan lewat gambar *Thank for Susan dan Mbak Kuke who inspiring me 🙂 *

and here there are……………………………………………………………………..

Chicken Teriyaki Ramen dan Tokyo Udon

Kuma Ramen, Jl Cimanuk no 11a, Buka tiap hari 18.30-22.30 (weekend sampe 23.3Follow Twitter  @KumaRamenBDG

Maio Green Burger, Jalan Dipatiukur no 1, Buka setiap hari Follow Twitter @maioburger

Lomi, Chicken Beefy Chees, Chicken Melon Mayo, Chicken Steroganoff (dÇlemmons)

Pujasera Mambo, Jalan Imam Bonjol Bandung, buka setiap hari 10.00- 17.00

Mie Kocok Bandung, Pempek Lenggang, Es Campur

The Kiosk Ciwalk, Broadway Cihampelas Walk Bandung, buka setiap hari jam 10.00- 22.00

Chuka Chinmi, Kani Mayo, Chuka Kurage, Ebikko, Tuna Salad

Sushi Tei, Jalan Sumatera no 9 Bandung

Kopi Rempah Jahe Putih, Pisang Goreng Keju, Milkshake Oreo

Kedai Kopi Mata Angin, Jalan Bengawan no 52 Bandung, buka setiap hari Selasa-Minggu 10.00-24.00

segitu dulu aja gastronomic trip report-nya nanti disambung lagi..sluurrrpp 🙂

Iklan

Last Trip on 2010, Situ Gunung !

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jalan-jalan santai ke Situ Gunung ini sebenarnya sudah berlangsung akhir Desember lalu, namun feel untuk menulis report-nya baru muncul sekarang hahahaha *maafkan saya ;P

Trip ini bermula ketika ngobrol santai di Pulau Tidung, Saya dan Amri awalnya hanya ingin berburu kuliner ke Bogor namun ternyata setelah ngobrol ngalor-ngidul akhirnya pembicaraan berujung pada satu tempat yaitu Situ Gunung di Sukabumi. Tiga hari pasca trip gratis ke Pulau Tidung, Saya, Amri,  Peggi dan Coco bertemu di Terminal Kampung Rambutan. Rencananya Gita juga akan bergabung bersama kami namun dia membatalkan keikutsertaannya di menit-menit terakhir. Setelah kami berempat bertemu, kami langsung menaikki bus jurusan Kp Rambutan-Sukabumi. Perjalanan Kampung rambutan-Cisaat ditempuh dalam waktu hampir 5 jam karena perjalanan sempat tersendat di gerbang keluar Ciawi. Akhirnya jam 5 sore kami tiba di Alun-alun Cisaat. Setelah membeli beberapa kebutuhan, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkot menuju Pos Situ Gunung. Setelah 30 menit perjalanan akhirnya kami sampai juga di Pos Situ Gunung.

Taman wisata Situ Gunung termasuk dalam kawasan cagar alam Taman Nasional Gede-Pangrango (TNGP). Berada tepat di kaki Gung Pangrango, taman wisata ini berada pada ketinggian 850 mdpl. Pada areal seluas sekitar 120 hektar ini terdapat camping ground, air terjun (curug cimanaracun dan curug sawer) dan juga terdapat danau buatan yang dilengkapi aula dan beberapa unit villa bagi mereka yang ingin menikmati keindahan Taman Wisata Situ Gunung.

Setelah mendaftarkan diri di pos penjaga, kami beristirahat sejenak untuk sekedar mengisi perut dan menonton Final League ke 2 Piala AFF. Setelah pertandingan selesai, kami lantas menuju Danau Situ Gunung (Situ = Danau –> Danau Danau Gunung, haaassh whatever lah). Berjalan sekitar 1,5 km dengan menembus kegelapan hutan TNGP, akhirnya kami sampai di danau. Pada awalnya kami berencana untuk mendirikan tenda disini, namun karena tidak mendapat izin dari petugas jaga (kemping hanya diperbolehkan di areal camping ground) akhirnya kami menggelar lapak dan beristirahat di gazebo di tepi danau.

Pagi menjelang, kami langsung menikmati pagi di Situ Gunung ini, aah..sayang sekali pagi itu cuaca sedang kurang bersahabat, mendung! padahal berdasarkan informasi yang saya dapatkan view terbaik di tempat ini adalah ketika pagi hari saat kabut turun berbarengan dengan cahaya matahari pagi. Tapi walaupun begitu, tidak mengurangi kesenangan kami untuk menikmati pagi disini. Minum teh manis hangat sambil duduk-duduk di jembatan kayu merupakan sesuatu yang luar biasa. Danau ini sekilas tampak seperti danau yang terbentuk secara alamiah namun ternyata danau ini merupakan dananu buatan yang dibangun puluhan tahun yang lalu.

Setelah menikmati keindahan danau, kami segera bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju Curug Sawer. Dari danau, kita berjalan kembali menuju pos pejaga lalu berjalan ke arah utara. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit berjalan kaki, lelahnya perjalanan menaiki dan menuruni bukit terbayar ketika melihat keindahan Curug Sawer. Sayapun tak tahan untuk menceburkan diri di aliran sungan dari Curug Sawer. Namun kesenangan itu terhenti sejenak ketika hujan turun. Setelah menunggu hujan reda, kami kembali bersenang-senang menikmati air tejun ini.

Puas bermain-main di Curug Sawer, kami langsung menuju Cisaat untuk kembali menuju Jakarta. Sesampainya di Cisaat, kami singgah dulu di Masjid Agung Cisaat untuk sekedar membersihkan diri dan hati (heheheh). Tak lupa memenuhi kewajiban untuk mengisi perut dengan masakan khas sunda yang berjejer di samping masjid agung.

Setelah makan, kami langsug menuju Jakarta dengan menggunakan bus. Perjalanan yang menyenangkan untuk menutup tahun 2010.

 

 

Menjelajahi Pulau Tidung bersama Bandar Pulau Tidung

 

Berenang bersama di areal Jembatan Cinta

Berenang bersama di areal Jembatan Cinta

Alhamdulillah, menulis ternyata bukan sekedar menyalurkan hobi namun dapat juga menjadi pintu rezeki. Setelah beberapa bulan lalu saya berhasil menjadi finalis ACIdetik.com dan juga menjadi contributing writter untuk sebuah web wisata, kali ini saya mendapat kesempatan mejelajahi Pulau Tidung tentunya dengan cuma-cuma. Adalah Bandar Pulau Tidung, sebuah operator wisata di Pulau Tidung yang memberikan kami (saya dan 3 orang blogger lainnya ; Ale, Peggi, Amri ) pelayanan maksimal selama berada di Pulau Tidung ini.

Kami berempat akhirnya sepakat bertemu di Muara Angke, namun ternyata dalam rombongan kami bertambah 3 orang yang meramaikan perjalanan kami diantaranya Inez teman Ale juga Hendro dan Yani pasangan suami-istri anggota Komunitas Pejalan Odong-Odong Traveller. Pukul 07.00 WIB kapal yang mengangkut kami mulai meninggalkan Pelabuhan Muara Angke menuju Pulau Tidung. Perjalanan yang memakan waktu 3 jam ini kami habiskan dengan bercerita, bermain sambung kata dan tidur tentunya 🙂

Pukul 10.00 WIB kami tiba di Pelabuhan Pulau Tidung dan kami langsung disambut Mas Anwar, salah satu staff Bandar Pulau Tidung dan langsung mengantarkan kami menuju penginapan. Sesampainya di penginapan, kami disambut dengan welcome drink kelapa muda yang menyegarkan. Setelah itu kami diberikan waktu bebas sampai dengan solat jumat, Sayapun menggunakan free time ini untuk berkeliling area penginapan dengan menggunakan sepeda yang telah disediakan.

Setelah selesai solat jumat, kami lalu diajak untuk bersnorkeling di pulau payung dan karang beras. Kami diberikan peralatan snorkeling dengan lengkap mulai dari life vest, google snorkel, pipa udara dan finn (kaki katak) sehingga kegiatan snorkeling kami pun terasa aman dan nyaman. Alam bawah laut pulau ini cukup memajakan mata, terumbu karang yang indah menjadi pemandangan  yang cukup menyegarkan. Pulau Tidung ini sekarang sudah cukup dikenal oleh warga Jakarta khususnya dan menjadi alternatif destinasi liburan akhir pekan selain Puncak dan Bandung.

 

Snorkeling di Pulau Karang Beras

Snorkeling di Pulau Karang Beras

Berjam-jam waktu kami habiskan bersnorkeling kamipun merapat di jembatan cinta (landmark khas Tidung) untuk menikmati panorama Sunset, namun Amri, -yang notabene pernah kesini- menyarakan kami untuk menikmati sunset di pantai paling barat Pulau Tidung, kamipun segera bergegas  menggunakan sepeda untuk mengejar kembalinya Sang Raja Siang ke peraduannya. Benar saja, pemandangan sunset di temapt ini sangat mengagumkan, apalagi saat itu cuaca memang sedang bersahabat. Pemandangan ini tentu saja tidak kami sia-siakan untuk diabadikan dalam lensa kamera.

 

Menunggu sunset di Pantai Tidung Barat

Menunggu sunset di Pantai Tidung Barat

Jump on sunset background

Jump on sunset background

Perfect sunset

Perfect sunset

Setelah matahari tenggelam, kami bergegas menuju penginapan untuk membersihkan diri setelah beharian bermandikan peluh dan air laut. Tak lama kemudian kami dipersilahkan untuk menikmati barbeque ikan di pantai sebelah timur Pulau Tidung, kamipun bergegas menuju tempat “pesta” dan kami disambut dengan kehangatan masyarakat Pulau Tidung. Ah, liburan yang menyenangkan !!!

Setelah menyantap ikan bakar dan juga bersenda gurau, kami segera kembali ke penginapan dan beristirahat memulihkan kondisi tubuh.

Keesokan harinya setelah subuh, kami langsung menuju jembatan cinta untuk menikmati sunrise namun sayang cuaca pagi itu kurang bersahabat sehingga terbitnya matahari dihalangi oleh awan yang cukup tebal. Akhirnya kamipun harus puas dengan pemandangan yang seadanya namun itu semua tidak mengurangi kesenangan kami untuk menjelajah pulau ini. Dari Jembatan Cinta kami menuju Pulau Tidung Kecil dan mengeksplore pulau berpasir putih ini.  Pulau ini sebenarnya sangat cantik namun sayang banyak sampah bawaan dari Ibukota yang mengotori pantai cantik ini.Setelah puas mengeksplore dan mengambil gambar di Pulau Tidung Kecil ini, kami segera bergegas kembali ke Jembatan Cinta dan menunggu waktu kepulangan kami dengan berenang di areal pantai yang airnya jernih ini.

 

Laskar Tidung

Laskar Tidung

Odong-Odong Travellers @ Tidung Kecil

Odong-Odong Travellers @ Tidung Kecil

My Fave Pose, Jump @ Tidung Kecil

My Fave Pose, Jump @ Tidung Kecil

Pukul 11.00 siang kami bergegas menuju pelabuhan untuk kembali ke Jakarta. Liburan yang menyenangkan dan mengesakna bersama Bandar Pulau Tidung. Terimakasih kepada Bandar Pulau Tidung yang telah memfasilitasi segala keperluan kami selama berada di Pulau Tidung

 

Last photo before leaving Tidung

Last photo before leaving Tidung

 

** CP Bandar Pulau Tidung (Rommy 0857 1616 9794)

 

Pulau Komodo, Warisan Dunia untuk Indonesia

Sudah bukan rahasia umum jika Indonesia bagian timur menyimpan sejuta potensi pariwisata. Bukan saja hanya terkenal dengan keindahan alamnya yang masih “perawan” namun juga merupakan surga bagi pecinta kegiatan bahari khusunya diving. Saya memang sedang tergila-gila dengan kawasan timur Indonesia. Namun biaya yang  yang tidak sedikit untuk mencapai kawasan timur Indonesia, membuat saya harus cukup menikmati keindahannya lewat tulisan-tulisan  ataupun gambar-gambar yang bertebaran di dunia maya. Beruntung saya menemukan website Indonesia.travel yang menyajikan informasi mengenai tempat-tempat pariwisata yang ada di Indonesia.

Gugusan di timur kepulauan Indonesia memang menyimpan pesona yang luar biasa dan Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu potensi pariwisata andalan Indonesia. Nusa Tenggara Timur merupakan propinsi yang terdiri dari 3 gugusan pulau besar yaitu Pulau Sumba, Timor dan Flores serta ratusan pulau-pulau kecil yang mengelilingnya.

Panorama Pantai di Nusa Tenggara Timur

Panorama Pantai di Nusa Tenggara Timur

Diantara sekian daya tarik Nusa Tenggara Timur, Pulau Komodo memang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan terutama wisatawan mancanegara. Pulau Komodo sendiri pada tahun 1986 telah ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan dunia. Tidak kurang dari 2500 ekor komodo (Varanus komodoensis) hidup disini. Hewan peninggalan zaman purba ini memang memukau siapa saja yang melihatnya. Tak heran jika akhirnya Pulau Komodo ini ditetapkan sebagai salah satu finalis the new 7 wonders bersama 27 tempat lainnya di seluruh dunia. Namun, penetapan Pulau Komodo sebagai  salah satu finalis 7 keajaiban dunia yang baru  bukan hanya saja didasarkan pada keberadaan komodo yang merupakan satu-satunya hewan peninggalan zaman purba yang ada di dunia tetapi juga karena pulau ini merupakan rumah bagi ratusan biota bawah laut. Berbagai jenis terumbu karang, ikan hiu, penyu hijau dan ratusan jenis ikan kecil dapat ditemukan disini. Bagi para penyelam, Pulau Komodo merupakan salah satu spot diving terbaik selain Raja Ampat yang berada di Papua Barat.

Komodo, Hewan Peninggalan Zaman Purba

Komodo, Hewan Peninggalan Zaman Purba

Alam Bawah Laut Pulau Komodo

Alam Bawah Laut Pulau Komodo

Untuk mewujudkan Pulau Komodo menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru, diharapkan partisipasi dari masyarakat Indonesia untuk ikut menyumbangkan suaranya DI SINI. Semoga setelah Borobudur, Indonesia kembali memiliki satu dari tujuh keajaiban dunia.

Saya ingat perkataan seorang sahabat “Jika kamu ingin mendapatkan sesuatu, maka tuliskanlah!!” Saya berharap suatu saat bisa menginjakan kaki di Dragon Land ini dan menyaksikan secara langsung hewan purba tersebut.

Foto-foto diunggah dari Indonesia.travel

** Follow twitter @indtravel atau Fan page Facebook Indonesia.Travel untuk mengetahui informasi seputar pariwisata Indonesia. Maju terus pariwisata Indonesia !!!

Berbagi Cerita di Kedai Kopi Mata Angin

Akhirnya kesampean juga ngopi disini. Kedai Kopi Mata Angin. Sebuah kedai kopi yang menurut saya, tempatnya enak buat sekedar berbagi cerita bersama kerabat ataupun menyendiri dengan ditemani segelas kopi hangat yang berasal dari seluruh nusantara. Konsep dari kedai ini sendiri adalah minimalis, dapat dilihat dari desain interior maupun eksteriornya semuanya minimalis namun nyaman 🙂

 

Kedai Kopi Mata Angin Bandung

Kedai Kopi Mata Angin Bandung

Kedai Kopi Mata Angin terletak di Jalan bengawan no 52, beberapa meter dari Taman Pramuka. How to get there? Klo dari ITB, bisa naik angkot Cicaheum-Ledeng turun di Telkom Supratman. Bisa dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 700 meter atau naik angkot Cicaheum-Kalapa via Aceh turun di perempatan jalan Bengawan-Cendana jalan dikit..nyampe deh !!

Kedai ini terdiri dari dua area yaitu indoor, beberapa meja sengaja diletakan di dalam ruangan dengan pemandangan dinding kuning-soft serta gambar-gambar bertema petualangan. Sedangkan outdoor meja-meja ditata rapih seperti berada di halaman rumah sendiri Oh iya FYI di tempat ini juga biasanya dijadikan meeting point beberapa komunitas-komunitas pejalan yang ada di Bandung.

Outdoor Kedai

Outdoor Kedai

untuk menu yang disajikan, sesuai namanya Kedai Kopi Mata Angin menyediakan berbagai macam minuman kopi (ada kopi Luwak , Sidakalang, Toraja, Arabica, Robusta, sayang ga ada kopi Wamena heu2) dan makanan ringan (pisang goreng, singkong goreng, lumpia, sandwich) , sangat cocok untuk mereka-mereka yang hanya ingin menghabiskan waktu dengan makanan yang tidak terlalu berat.

Menu-Menu Kedai Kopi Mata Angin

Menu-Menu Kedai Kopi Mata Angin

Overall, saya suka tempat ini karena selain tempatnya nyaman, banyak buku dan majalan tentang outdoor activities. Jadi cukup betah untuk berlama-lama dan berbagi cerita di kedai ini.

Bacaan saya

Bacaan saya

Berbagi Cerita bersama Sahabat

Berbagi Cerita bersama Sahabat

 

*maaf kemaren gak bawa kamera, jadi foto2nya pake kamera HP ajah :p

Cerita di 3078 mdpl

Mendung di Ciremai

Mendung di Ciremai

Alhamdulilah, akhirnya saya berhasil juga menginjakan kaki di puncak tertinggi Jawa Barat. Perjalanan menuju Gunung Ceremai ini sebenarnya cukup mendadak karena saya baru diajak Amri seminggu sebelum pendakian. Namun, karena memang sudah lama saya ingin mendaki Gunung yang katanya mistis ini, saya manut aja dan langsung meng-iya-kan tawaran Amri buat nanjak.

Hari jumat (051110) saya berangkat dari Bandung bareng temen sekampus saya si Ghilman menuju Kuningan. untunglah kami datang ke terminal tepat waktu, tepat saat bis terakhir hampir berangkat. Bis berangkat jam 3 sore  dan sampai di Kuningan jam setengah 9 malam. Setelah makan malam dan membeli beberapa logistik, kami beristirahat di tempat Kang Ahmad (teman yang bakal nganter kita muncak) sambil nunggu Amri dan Ipunk dari Jakarta.

Pagi hari, setelah Amri dan Ipunk nyampe rumah kang Ahmad, lantas kita repacking dan sarapan sebelum menuju desa Cisantana, desa terakhir sebelum memulai pendakian. Kami sengaja mengambil jalur Palutungan karena jalur Linggarjati masih ditutup akibat pendaki yang tewas selain itu jalur palutungan juga memiliki track yang cukup ‘manusiawi’ dibandingkan jalur Linggarjati.

Setelah sarapan, kami memulai pendakian sekitar pukul 09.00. Track pertama antara Palutungan-Cigowong  kami melewati hutan pinus, semak ilalang dan kemudian mulai memasuki hutan tropis. Palutungan-Cigowong bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Sesampainya di pos Cigowong kami mengisi air untuk persediaan di atas. Pos Cigowong merupakan satu-satunya sumber air di jalur ini. Berangkat dari Pos Cigowong awan hitam mulai turun dan suara petir mulai terdengar tapi kita tetap melanjutkan perjalanan. sempet istirahat sebentar di pos Kuta lalu lanjut lagi menuju pos Pangguyangan Badak. Di tengah jalan rintik hujan mulai turun namun kami tetep melanjutkan pendakian menuju Pos Arban. Sesampainya di Pos Arban kami beristirahat sebentar dan mengisi energi karena setelah ini kami akan menuju track yang cukup menguras energi.  Sekilas tentang Pos Arban, pos ini menurut saya cukup membuat bulu kuduk merinding karena pos ini dikelilingi pohon-pohon penuh lumut sehingga suasanan di pos ini sangat lembab dan nuansa mistis pun semakin bertambah dengan sebuah papan peringatan bertuliskan “Jangan Bicara Sembarangan Disini”. Tak berlama-lama disini, setelah mengisi energi kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya yaitu Pos Tanjakan Asoy sambil ditemani dengan rintik hujan. Tanjakan Asoy ini bukanlah tanjakan yang mengerikan seperti tanjakan setan di Gunung Gede, tapi karena tracknya cukup panjang sehingga amat sangat menguras tenaga, sesampainya di Pos Tanjakan Asoy hujan bertambah deras, karena semakin dingin kami melanjutkan pendakian menuju Pos Pesanggrahan. Dari Pos Tanjakan Asoy sampai dengan Pesanggrahan sangat menu menguras energi dan kami pun memutuskan untuk makan siang di Pos Pesanggrahan sembari menunggu hujan reda. Namun sayang, hujan tak kunjung reda malah, semakin deras dan petir semakain menggelegar. Akhirnya kami pustuskan untuk bermalam pos ini dan menuju puncak besok subuh dari pos ini.

Sumber air di Pos Cigowong

Sumber air di Pos Cigowong

Me-recharge energi yang terkuras di Pos Tanjakan Asoy

Me-recharge energi yang terkuras di Pos Tanjakan Asoy

Pos Pesanggrahan

Pos Pesanggrahan

Jam 03.00 kami bangun dan siap-siap summit attack, udara dingin yang menusuk tulang tidak kami hiraukan, karena keinginan untuk mencapai puncak lebih besar daripada memanjakan tubuh dengan sleeping bag. Waktu tempuh dari Pos Pesanggrahan ke Puncak sekitar 3 jam, jadi diperkirakan pukul 6 kami sudah berada di puncak. Kami terus menembus malam sekerat demi sekerat kami menaiki gunung tertinggi di Jawa Barat ini. Fajar mulai tampak, namun pagi itu kami tidak menemukan tanda-tanda sinar matahari. Pagi itu Gunung Ciremai diselimuti awan mendung. Jam setengah 6 kami tiba di Pos terakhir yaitu Goa Walet, istirahat sebentar kemudian kami lanjutkan perjalanan menuju puncak yang hanya tinggal beberapa menit saja. Akhirnya jam 6 kurang kami sudah sampai di puncak Ciremai dengan disambut mendung. Setelah solat subuh lalu kami mengabadikan beberapa moment. Sayang memang, pemandangan sunrise terbaik di puncak ini belum bisa kami saksikan saat ini karena kabut cukup tebal  sehingga menghalangi pemandangan Kota Kuningan. Tapi saya pasti kembali lagi ke sini untuk melihat pemandangan terbaik Gunung Ciremai. Hujan pun turun di puncak dan kami segera bergegas meninggalkan puncak menuju pos Pesanggrahan tempat kami bermalam. Tak lebih dari satu jam kami sampai di camp bermalam kami, kemudian kami mengisi energi dan dilanjutkan dengan packing untuk turun.

 

Pos pendakian terakhir di Goa Walet

Pos pendakian terakhir di Goa Walet

 

Yang muda yang bergaya

Yang muda yang bergaya

Kawah Ciremai

Kawah Ciremai

Pukul 3 sore kami sudah berada di desa Cisantana, dan jam 4 kami berpisah di terminal Kuningan, Saya dan Ghilman melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung sedangkan Amri dan Ipunk melanjutkan perjalanan pulang menuju Jakarta.

Leyeh-Leyeh di Kuburan Belanda

Saya gak nyangka kalau di Jakarta ternyata ada tempat yang adem buat leyeh-leyeh. Museum Prasasti, sebuah areal pemakaman warga Belanda pada masa kolonial dahulu ini memang enak dijadikan tempat untuk bersantai atau sekedar leyeh-leyeh. Rimbunnya pohon dan suara kicau burung sangat cocok untuk menghilangkan sejenak kepenatan  rutinitas. Saking nyaman-nya suasana di sini saya bersama rekan saya, Amri, Gita dan Ambar sampai tertidur di pelataran pemakaman a’la barat ini.

 

bergaya di depan museum prasasti

bergaya di depan museum prasasti

 

jajaran prasasti di gerbang awal

jajaran prasasti di gerbang awal

 

malaikat

malaikat

 

pusara orang-orang Belanda dahulu

pusara orang-orang Belanda dahulu

tidur tenang ditemani malaikat

tidur tenang ditemani malaikat

menara katedral

menara katedral

alat musik sebagai pengiring kematian

alat musik sebagai pengiring kematian

aah, saya menyukai tempat ini..pantas saja tempat ini biasa juga dijadikan tempat untuk syuting video klip ataupun foto pre-wedding.

Lokasi : Taman Prasasti, Jalan Tanah Abang no 1 Jakarta Pusat

Tiket masuk: umum Rp.2000, pelajar Rp.1000, prewed : XXX.000